Search
Generic filters
QR Code

Bambu Betung (Dendrocalamus asper)

Bambu Betung (Dendrocalamus asper) memiliki nama daerah yaitu Pring Petung untuk di daerah Jawa dan bernama Awi Bitung untuk di daerah Sunda. Jenis bambu ini tumbuh dengan baik di tanah aluvial di daerah tropika yang lembab dan basah, tetapi bambu ini juga tumbuh di daerah yang kering di dataran rendah maupun dataran tinggi. Bambu Betung memiliki bentuk rumpun simpodial, tegak dan padat. Rebung berwarna hitam keunguan, tertutup bulu berwarna coklat hingga kehitaman. Tinggi batang mencapai 20 m, lurus dengan ujung melengkung. Pelepah buluh mudah luruh tertutup buluh hitam hingga coklat tua (Sutiyono dkk., 1989).
Bambu Petung (Dendrocalamus asper) memiliki sifat yang keras dan baik untuk bahan bangunan. Perbanyakan bambu betung dilakukan dengan potongan batang atau cabangnya. Jenis bambu ini dapat ditemukan di dataran rendah sampai ketinggian 2000 mdpl. Bambu ini akan tumbuh baik bila tanahnya cukup subur, terutama di daerah yang beriklim tidak terlalu kering (Berlian dan Rahayu, 1995).

Ciri-ciri

Rumpun bambu merumpun; rebungnya hitam keunguan, tertutup oleh bulu-bulu (lugut:jawa) seperti beledu cokelat hingga kehitaman. Buluh berukuran besar, panjang ruas 40-50 cm dan garis tengahnya 12-18(-20) cm, secara keseluruhan buluh mencapai tinggi 20 meter dengan ujung yang melengkung. Warna batang bambunya bervariasi dari hijau, hijau tua, hijau keunguan, hijau keputihan, atau bertotol-totol putih karena adanya semacam lumut. Buku-bukunya dikelilingi oleh akar udara. Ketebalan dinding buluh bambunya antara 11 sampai 36 mm.

Pelepah buluh berukuran besar, lk. 50 × 25 cm, tertutup oleh miang atau bulu-bulu halus berwarna hitam hingga cokelat tua; kupingnya membulat dan terkadang mengeriting hingga dasar daun pelepah buluh, tinggi 7 mm dengan bulu kejur hingga 5 mm; ligula (lidah-lidah) menggerigi tidak teratur, tinggi 7–10 mm dengan bulu kejur pendek hingga 3 mm; daun pelepah buluh menyegitiga dengan dasar menyempit, terkeluk balik.Daun pada ranting dengan pelepah yang lokos atau bermiang pucat jarang-jarang, tanpa kuping, ligula lk. 2 mm, helaian berukuran 15-30(-45) × 1-2,5(-8,5) cm, sisi bawahnya agak berbulu; tangkai daun amat pendek.

Perbungaan berupa malai pada ranting tak berdaun, dengan kelompok-kelompok spikelet pada masing masing bukunya. Spikelet bentuk elipsoid, 6-9 × 4–5 mm, sedikit memipih ke samping, berisi 1-2 gluma dan 4-5 floret.

Pemanfaatan

Bambu betung banyak dipakai untuk bahan bangunan dan kayu struktural untuk konstruksi pelbagai bangunan. Juga dimanfaatkan sebagai tiang rumah, andang-andang perahu, rangka gudang tembakau, jembatan dan titian, perancah dan lain-lain. Buluhnya yang tebal umumnya dianggap kuat dan awet pada kadar air 8%.

Pemanfaatan lainnya di antaranya untuk semah-semah perahu, tahang air atau nira, saluran air, alat musik, furnitur, peralatan rumah tangga dan kerajinan, papan laminasi, bubur kertas, sumpit, tusuk gigi, serta aneka kegunaan lainnya.

Rebungnya yang besar dan manis disukai orang, untuk dibuat acar atau masakan lain. Mutu rebung ini dianggap yang terbaik dibandingkan dengan rebung bambu jenis lain, termasuk pula apabila dikalengkan

Gambar