Pohon Lerak mempunyai nama latin Sapindus rarak juga mempunyai nama lokal rerek (Sunda), klerek, werak (Jawa) atau lamuran (Palembang). Lerak termasuk ke dalam kelas Magnoliopsida (dikotil) bangsa Sapindales suku Sapindaceae, satu suku dengan rambutan (Nephelium lappaceum L.), kelengkeng [Euphoria longan (Lour.) Steud], leci (Litchi sinensis Sonn.), dan kiara payung [Filicium decipiens (W. & A.) Thw.]. Tumbuhan lerak berbentuk pohon dengan tinggi rata-rata 10 m, walaupun dapat mencapai 42 meter dengan diameter satu meter.
Lerak belum pernah dibudidayakan di Indonesia. Umumnya bila ditanam penduduk hanyalah 1Ë—2 pohon saja di pekarangan rumah sebagai tumbuhan sampingan . Keberadaan pohon lerak sudah mulai terlupakan, meskipun demikian buah lerak masih dijual di pasar tradisional meskipun dalam jumlah terbatas. Pemasok lerak memperolehnya dari pohon yang tumbuh di pinggiran hutan.
Kendala tumbuhan lerak belum dibudidayakan secara luas karena waktu panen yang lama seperti halnya anggota Sapindaceae yang lain (matoa, rambutan, kelengkeng), sehingga membuat orang tidak tertarik untuk membudidayakan tumbuhan lerak. Pengetahuan tentang perbanyakan lerak juga masih sedikit sehingga ketersediaan benih menjadi rendah.
Tumbuhan lerak mempunyai berbagai manfaat sementara keberadaannya tidak dilindungi dan terancam punah, di sisi lain tidak ada upaya dari masyarakat untuk membudidayakannya,
maka upaya pelestarian lerak perlu dilakukan.
Kandungan
Buah lerak mengandung saponin, sedangkan bijinya mengandung minyak (Sunaryadi, 1999 & Stoffels, 2008).
Manfaat Lerak
- Pohon Lerak memiliki nilai ekonomis karena kualitas kayunya seperti kayu jati. Kulit batang, daun, kulit buah, dan biji tumbuhan lerak mengandung saponin dan flavonoid.
- Saponin kulit buah lerak digunakan sebagai pencuci alami, biopestisida, dan dimanfaatkan di bidang kesehatan sebagai pembersih muka guna mengurangi jerawat pada wajah
- Kandungan tanin pada kulit batang dan daun tumbuhan lerak. Kulit batang dapat digunakan sebagai pembersih rambut
- Buah lerak banyak ditemukan di pulau Jawa dan lazim digunakan untuk bahan pencuci kain batik dan logam (perak dan emas). Daging buah lerak mengandung senyawa saponin yang dapat digunakan sebagai bahan aktif dalam pembuatan hand sanitizer.
Potensi Karbon
Potensi serapan karbon pohon Lerak (Sapindus rarak) berusia 5 tahun dapat bervariasi tergantung pada kondisi lingkungan dan metode pengukuran yang digunakan. Namun, berdasarkan penelitian yang ada, pohon-pohon dengan usia dan ukuran yang serupa memiliki potensi serapan karbon yang signifikan.
Sebagai contoh, penelitian pada pohon Jati Unggul Nusantara (JUN) menunjukkan bahwa pada usia 5 tahun, potensi serapan CO2 berkisar antara 54,98 hingga 65,02 ton CO2 eq./ha. Meskipun ini bukan pohon lerak, data ini dapat memberikan gambaran umum tentang potensi serapan karbon pohon dengan usia yang sama.
Gambar



















Sumber : Plantnet, Global Biodiversity Information Facility (GBIF) & Dari berbagai sumber