Pada masa lalu di masyarakat Jawa dan Sunda, bambu digunakan untuk memotong tali pusar. Sebatang bambu disayat kulitnya untuk mendapatkan potongan tipis yang tajam. Di Jawa, pisau tajam dari kulit bambu ini disebut Welat bambu. Setelah tali pusar atau ari-ari ini dipotong, kemudian ditaruh di dalam kendi dari gerabah yang kemudian dikubur di samping rumah. Biasanya penempatan penguburan ari-ari ini tergantung dari jenis kelamin dari bayi yang lahir. Selama beberapa hari, tempat dimana ari-ari tersebut dikubur diberi senthir (lampu minyak). Saat ini banyak tradisi menaruh lampu minyak/senthir ini sudah banyak yang diganti dengan lampu listrik.
Selain untuk memotong tali pusar, dukun atau mantri sunat menggunakan welad bambu untuk melakukan khitan. Bahkan menurut penuturan, bubuk atau tepung berwarna kuning kecoklatan yang terdapat di dalam rongga bambu digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka sunat. Tepung tersebut ditaburkan di atas luka. Belum ada catatan tentang senyawa aktif apa yang ada dalam tepung buluh bambu yang berperan dalam penyembuhan luka.
Gambar
Sumber :
dariberbagai sumber



