Search
Generic filters

Pohon Jati (Tectona grandis L.f.)

Pohon Jati termasuk dalam Genus Tectona yang terdiri dari 3 spesies dan termasuk famili Verbenaceae. Genus ini berasal dari daerah tropis India dan hutan Asia tenggara. Pohon Jati (Tectona grandis L.f.) atau dalam bahasa Inggris ‘teak’ adalah salah satu spesies yang dikenal sebagai penghasil kayu, berbentuk pohon yang mencapai tinggi hingga 40 meter. Jati ditanam sudah cukup lama di Indonesia dan beberapa literatur menyebutkan bahwa jati juga tanaman asli Indonesia, namun dipercaya bahwa jati di Indonesia dibawa ke Jawa dari India beratus-ratus tahun yang lalu. Hingga kini, jati merupakan tanaman penghasil kayu yang secara ekonomi sangat penting di Indonesia.
Dilihat dari sejarahnya, pada awal abad 19, pohon jati ditebang oleh orang Inggris dan kayunya dijadikan bahan pembuat kapal laut dan meubel. Bahkan sampai kini di Eropa, Kayu Jati masih dibutuhkan untuk bahan baku meubel yang berkualitas baik. Akibat dari pemakaian kayu jati ini, maka pohon jati terbesar yang pernah ada menjadi punah. Saat ini, tanaman jati tingginya hanya mencapai kurang lebih 24 meter. Di Indonesia, utamanya tanaman jati ditanam sebagai tanaman penutup tanah, terutama di hutan-hutan, atau pada tanah kering dan daerah yang kurang subur, sehingga kita ketahui adanya hutan jati di Jawa tengah dan Jawa timur. Di daerah ini, jati juga ditanam sebagai tanaman pelindung di pinggir jalan.

Seperti halnya di Eropa, di Indonesia jati juga merupakan penghasil kayu yang relatif mahal harganya, Selain fungsinya tersebut, daun jati juga memiliki manfaat dalam pembuatan makanan tradisional, yaitu digunakan sebagai pemberi warna merah pada ‘gudeg’, makanan khas daerah Yogyakarta. Bubuk kayu jati juga dilaporkan dapat dijadikan obat penyakit kulit (dermatitis).
Nama-nama daerah jati yang sering dipakai dibeberapa negara, seperti Jati (Indonesia), Tekku (Bombay), Kyun (Burma), Saga (Gujarat), Sagun (Hindi), Saguan (Kannad), Sag (Manthi), Singuru (Oriya), Bardaru (Sangskrit), Tekkumaran (Tamil) dan Adaviteeku (Telugu).

Pohon jati cocok untuk tumbuh di kawasan iklim tropis di Indonesia. Ketika memasuki musim kemarau dengan kondisi curah hujan yang menurun, daun-daun jati akan berguguran. Di Indonesia, hutan jati banyak ditemukan di Pulau Jawa, Muna, Sumbawa, dan Flores, dan dikelola oleh Perhutani dengan luas mencapai 1,5 juta hektare. Potensi ekologis ini menjadikan jati sebagai komponen penting dalam strategi pembangunan berkelanjutan, terutama di wilayah rawan degradasi lahan.

Morfologi

  • Pohon Jati dapat tumbuh hingga ketinggian 40 meter dengan diameter batang pohon berukuran 1,8 meter hingga 2,4 meter. Tinggi batang bebasnya mencapai 18-20 meter.
  • Akar pohon jati terdiri dari dua jenis yakni akar tunggang dan akar serabut.
  • Batang pohon jati berwarna cokelat gradasi dan kuning keabu-abuan.
  • Daun jati adalah daun tunggal, berukuran besar dan bertangkai pendek. Daunnya berbentuk jantung membulat, ujung runcing, pangkal meruncing, pertulangan menyirip, kasar. Bagian bawah daun dan bagian tanaman yang muda sering ditumbuhi bulu. Daun pada anakan pohon berukuran besar, sekitar 60-70 cm × 80-100 cm, sedangkan pada pohon tua menyusut menjadi sekitar 15 × 20 cm.
  • Daun jati letaknya saling berhadapan, bertangkai pendek. Daun muda akan bewarna hijau kecoklatan atau coklat kemerahan, sedangkan daun tua bewarna hijau keabu – abuan. Daunnya akan gugur pada saat musim kemarau, antara bulan November sampai Januari. Daun jati juga memiliki keunikan tersendiri, karena apabila diremas maka akan menghasilkan warna merah.
  • Bunga jati berukuran kecil dengan diameter 6-8 mm, berwarna keputih-putihan dan berkelamin ganda (satu bunga terdapat benang sari dan putik) dengan jumlah kuncup per tandan antara 800-3.800 buah. Bunga mekar dalam waktu 2-4 minggu, tersusun dalam rangkaian bunga majemuk berbentuk anak payung menggarpu, dan tumbuh di ujung cabang. Bunganya berambut serupa tepung dan ditutupi oleh kelenjar. Musim berbunga pohon jati adalah pada permulaan musim penghujan, sedangkan pada musim kemarau tanaman menggugurkan daunnya selama berbulan-bulan.
  • Buah jati berwarna hijau muda, berbentuk bulat, berambut kasar, keras dan termasuk kategori buah batu. Ukuran buah antara 5-20 mm, berdaging dan berbiji 2 – 4.
  • Perbanyakan pohon Jati dapat dilakukan lewat biji ataupun stek.

Taksonomi

  • Kingdom : Plantae
  • Divisi : Magnoliophyta
  • Sub Divisi : Spermatophyta
  • Kelas : Magnoliopsida
  • Ordo : Lamiales
  • Famili : Verbenaceae
  • Genus : Tectona
  • Spesies : Tectona grandis L.f  
  • Nama ilmiah : Tectona grandis Linn f.

Potensi Ekologis

Pohon jati (Tectona grandis) memiliki potensi ekologis yang tinggi, terutama dalam konservasi tanah, penyimpanan karbon, dan peningkatan keanekaragaman hayati. Selain nilai ekonominya yang terkenal, jati juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan;

  • Sistem perakaran Pohon Jati yang dalam dan kuat membantu menahan tanah, mencegah erosi, dan menjaga struktur tanah di daerah lereng atau rawan longsor.
  • Pohon Jati mampu menyerap dan menyimpan karbon dioksida dalam jumlah besar, berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim.
  • Kanopi dan akar Pohon Jati membantu menjaga kelembaban tanah dan mengatur infiltrasi air, sehingga mendukung siklus hidrologi lokal.
  • Hutan Jati menyediakan habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna, termasuk burung, serangga, dan mikroorganisme tanah. Namun tantangan terbesar dari sini adalah nilai ekonomis kayu Jati yang tinggi menjadi ancaman bagi keberadaan hutan Jati.
  • Jati sering digunakan dalam program penghijauan dan reboisasi karena daya adaptasinya yang tinggi dan manfaat ekologisnya yang berkelanjutan.
  • Struktur pohon yang kokoh dan daun yang lebat membantu mengurangi dampak angin kencang dan panas ekstrem di sekitarnya.

Potensi Herbal

  • Kandungan Antioksidan alami (flavonoid dan senyawa fenolik) dalam daun jati membantu menangkal radikal bebas dan mengurangi stres oksidatif.
  • Ekstrak daun jati menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap beberapa jenis bakteri dan jamur, berpotensi digunakan dalam pengobatan luka ringan dan infeksi kulit.
  • Dalam pengobatan tradisional, daun jati digunakan sebagai peluruh lemak dan pembersih tubuh, meskipun efektivitasnya masih memerlukan riset lanjutan.
  • Daun jati juga dimanfaatkan untuk mengatasi masalah kulit, demam, dan gangguan pencernaan di beberapa budaya Asia Tenggara. Bubuk kayu jati juga dilaporkan dapat dijadikan obat penyakit kulit (dermatitis).

Potensi Pewarna alami

  • Ekstrak daun jati muda menghasilkan warna merah kecoklatan yang dapat digunakan sebagai alternatif pewarna sintetik untuk preparat biologi dan kain, Warna yang dihasilkan ini juga dimanfaatkan dalam kerajinan batik.
  • Selain ramah lingkungan, pewarna dari daun jati mudah diperoleh, tidak beracun, dan lebih aman dibandingkan pewarna kimia, cocok untuk keperluan edukatif dan industri kecil.

Potensi Peneduh Jalan

Daun jati yang besar dan lebat mampu menangkis sinar matahari langsung, menciptakan area teduh yang nyaman bagi pejalan kaki dan pengguna jalan.

  • Kehadiran jati di sepanjang jalan membantu menurunkan suhu permukaan dan udara sekitar, mengurangi efek pulau panas perkotaan.
  • Struktur batang jati yang tegak dan kuat memberikan kesan monumental dan elegan, memperindah tampilan jalan dan taman kota.
  • Jati tahan terhadap kekeringan dan angin kencang, menjadikannya pilihan ideal untuk daerah tropis dan subtropis.
  • Sistem perakaran jati membantu menstabilkan tanah di pinggir jalan dan meningkatkan infiltrasi air hujan.
  • Meski akarnya kuat, jati tidak termasuk jenis yang agresif merusak trotoar atau saluran air jika ditanam dengan jarak dan teknik yang tepat.

Namun pemanfaatan Pohon Jati untuk Peneduh Jalan ataupun sebagai hutan kota perlu mempertimbangkan ;

  • Jarak tanam ideal: 4–6 meter antar pohon untuk menghindari konflik akar dan memberi ruang kanopi.
  • Pemangkasan berkala: Diperlukan untuk menjaga bentuk dan mencegah gangguan pada kabel listrik atau bangunan.
  • Kombinasi dengan tanaman bawah: Bisa dipadukan dengan semak atau rumput untuk memperkuat fungsi ekologis dan estetika.

Potensi Karbon

Berikut adalah estimasi serapan karbon berdasarkan studi dan data lapangan:

  • Jati umur 5 tahun, dapat menyerap sekitar 20–25 kg CO₂ per tahun. Biomassa masih berkembang, namun sudah mulai berkontribusi pada siklus karbon.
  • Jati dewasa (15–25 tahun), dapat menyerap hingga 35–40 kg CO₂ per tahun, tergantung diameter batang dan tinggi pohon.
  • Jati unggul klonal (Jati Mega), yakni varietas ini memiliki pertumbuhan lebih cepat dan potensi serapan karbon lebih tinggi, cocok untuk program reboisasi dan konservasi.

Potensi akumulatif

  • Potensi akumulasi karbon; apabila dalam satu hektare hutan jati dengan 1.000 pohon, total serapan bisa mencapai 20–40 ton CO₂ per tahun.
  • Potensi ini cukup relevan untuk NEK dan kredit karbon. Jati dapat dimasukkan dalam skema valuasi karbon lokal, terutama jika dikombinasikan dengan spesies lain dan pendekatan agroforestri.

Gambar

 Sumber : Plantnet, Global Biodiversity Information Facility (GBIF) & Dari berbagai sumber