Gintung (Bischofia javanica Blume)

Gintung, Pepolo, sikkam, gadog atau kerinjing (Bischofia javanica Blume) merupakan pohon dari suku Phyllanthaceae. Pohon ini menyebar luas mulai dari India di barat, Jepang selatan di utara, ke selatan hingga ke Kepulauan Nusantara dan ke timur hingga ke Australia dan Pasifik. Gintung (Bischofia javanica Blume) memiliki banyak nama-nama daerah, seperti; sikam, singkam, cingkam (Batak); tingkeuëm (Acèh); tingkeum (Gayo); kerinjing, geronjing (Melayu) bintungan (Minang.); gintungan, gintung, gĕntung, gelintungan (Jawa.); gadog, ki maung (Sunda.); marintĕk, kayawu (Minahasa.); simamo (Ternate). Sementara Gintung (Bischofia javanica Blume) juga kerap disebut ki mangsi, bendo, atau bishop wood.

Pohon tropis ini memiliki nilai ekologis, ekonomis, sekaligus kultural. Nama ilmiahnya diberikan oleh Carl Ludwig Blume, seorang botanis berkebangsaan Jerman-Belanda yang banyak meneliti flora Asia Tenggara pada abad ke-19. Dikenal karena daya tahannya yang tinggi, pertumbuhan cepat, serta multifungsi dalam ekosistem maupun pemanfaatan manusia.

Habitat alami Gintung (Bischofia javanica) tersebar luas di kawasan tropis Asia, mulai dari India, Cina Selatan, Semenanjung Malaya, hingga kepulauan Indonesia dan Pasifik Barat. Di Indonesia, pohon ini tumbuh secara alami di hutan dataran rendah, tepian sungai, serta hutan sekunder, dengan ketinggian optimal hingga 1.500 meter di atas permukaan laut.

Meskipun bukan spesies endemik tunggal Indonesia, persebarannya yang melimpah di Jawa membuat nama ilmiah “javanica” disematkan, menandai bahwa Jawa adalah salah satu wilayah penting dalam sejarah penemuannya.

Selain tumbuh secara alami, Gintung (Bischofia javanica) juga sering ditanam oleh masyarakat di kampung-kampung, lahan kehutanan, hingga proyek reboisasi, karena dikenal cepat tumbuh, tahan terhadap kondisi tanah kurang subur, serta berfungsi sebagai peneduh. Kemampuannya beradaptasi dengan berbagai kondisi tanah, termasuk lahan kritis, menjadikan Bischofia javanica sebagai spesies pionir yang sering digunakan dalam program rehabilitasi hutan dan penghijauan.

Secara morfologis, pohon ini mampu mencapai tinggi 40 meter dengan diameter batang lebih dari satu meter. Daunnya majemuk dengan warna hijau mengilap, sementara kayunya berwarna merah kecokelatan, keras, dan awet. Sifat kayu yang kuat membuatnya sering dipakai untuk bahan bangunan tradisional, perabot rumah tangga, serta kerajinan.

Tidak hanya kayunya, getah dan kulit batangnya pun memiliki kegunaan dalam pengobatan tradisional, misalnya sebagai bahan ramuan untuk penyakit kulit atau pewarna alami. Buahnya yang kecil-kecil berwarna gelap dapat dimanfaatkan sebagai pakan satwa, menjadikannya sumber penting dalam rantai ekologi hutan tropis.

Dalam konteks budaya masyarakat, Gintung (Bischofia javanica) memiliki peran yang cukup menarik. Di beberapa daerah di Indonesia, pohon ini dianggap sebagai pohon keramat yang melambangkan keteduhan dan keberlangsungan hidup. Ukurannya yang besar dan kokoh sering menjadi tempat berkumpul masyarakat desa, baik untuk pertemuan adat maupun kegiatan sosial.

Di Jawa, misalnya, pohon ini kadang ditanam di dekat balai desa atau pemakaman, sebagai simbol perlindungan dan penghubung antara dunia manusia dengan alam. Di beberapa kebudayaan Asia lainnya, terutama di wilayah Pasifik, pohon ini kerap diasosiasikan dengan kehidupan panjang dan ketahanan, sehingga kayunya dipakai dalam pembuatan rumah atau perahu sebagai simbol kekuatan dan perlindungan.

Dalam agroforestry/wanatani, Gintung (Bischofia javanica) juga memainkan peran penting. Karena sifatnya yang cepat tumbuh dan tahan terhadap kondisi lahan terdegradasi, pohon ini digunakan dalam proyek reforestasi, agroforestry, serta pengendalian erosi di daerah aliran sungai.

Selain itu, keberadaannya membantu menjaga keanekaragaman hayati dengan menyediakan habitat dan pakan bagi satwa liar, terutama burung dan kelelawar pemakan buah. Perannya sebagai spesies peneduh sekaligus penyubur tanah menjadikannya elemen penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem hutan tropis.

Taksonomi

  • Kingdom: Plantae
  • Divisi: Tracheophyta (tumbuhan berpembuluh)
  • Kelas: Magnoliopsida (dikotil)
  • Ordo: Malpighiales
  • Famili: Phyllanthaceae (dahulu Euphorbiaceae)
  • Genus: Bischofia
  • Spesies: Bischofia javanica Blume
  • Spesies : Mimusops elengi L.
    • Sinonim : Andrachne trifoliata Roxb., Bischofia leptopoda Müll.Arg., Bischofia oblongifolia Decne.

Morfologi

  • Pohon berukuran sedang hingga besar yang menggugurkan daun, tinggi 25–45 m (dapat lebih pada kondisi ideal). Umur panjang; sering menjadi pohon dominan hutan sekunder–primer.
  • Batangnya dapat mencapai 80-140 cm. Berbatang lurus atau agak bengkak-bengkok, batang bebas cabangnya pendek, akan tetapi kadang-kadang ada yang mencapai 20 m; sesekali, ada pula yang memiliki banir sempit hingga setinggi 3 m. Kulit batang memecah dan bersisik, berwarna abu-abu hingga cokelat tua. Kayunya keras dan kuat, bagian teras Kayu berwarna kemerahan hingga keunguan, di sebelah dalam merah jambu, menyerat dan serupa spons. Mengeluarkan getah merah bening, encer atau agak seperti jeli. Tajuk membulat padat. Pada pohon tua, pangkal dapat membesar (buttress ringan).
  • Sistem perakaran tunggang kuat dengan akar lateral menyebar luas. Adaptif di tanah lembap hingga agak kering. Efektif menahan tanah di lereng dan bantaran sungai.
  • Daun majemuk menjari (trifoliat) /3 anak daun dari satu tangkai. Anak daun berbentuk lonjong–elips, ujung daun meruncing, pangkal tumpul–membaji. Tepi rata, Ukuran anak daun: ± 10–20 cm, permukaan licin, hijau tua mengilap. Daun muda sering kemerahan (ciri khas mencolok).
  • Bunga berukuran kecil, tidak mencolok. Warna hijau kekuningan. Tersusun dalam malai (panicula) di ketiak daun. Berumah dua (dioecious)/Pohon jantan dan betina terpisah. Bunga jantan berkumpul dalam malai sepanjang 9–20 cm di ketiak. Malai bunga betina sekitar 15–27 cm panjangnya.
  • Buah tipe drupa kecil. Bentuk bulat hingga lonjong. Bergetah, berwarna buah Hijau → merah → ungu kehitaman saat matang. Ukuran ± 0,8–1,5 cm. Mengandung 1–2 biji keras. Buah ini disukai oleh burung-burung.
  • Biji keras, dilindungi daging buah. Penyebaran biji terutama oleh burung dan kelelawar.

Kandungan Penting

Flavonoid, lenersetin, sitosterol, asam stearate, asam linolenat, asam palmitat, asam elagit.

Manfaat

  • Antileukemia, antiinflamasi, antimikroba, antialergi, antidiare, mengobati luka bakar, merangsang pertumbuhan rambut, mengobati batuk tidak berdahak.
  • Kulit kayu: dapat mengobati luka, diare, maag, asam lambung, obat kumur.

Batuk kering

  • Siapkan 1-2 genggam daun cingkam yang masih muda.
  • Dapat langsung dimakan atau ditumbuk terlebih dahulu kemudian diperas airnya, minum setiap pagi dan sore hari.

Pengawetan

  • Pilih daun cingkam segar. Bersihkan dari kotoran yang menempel. Cuci lalu tiriskan.
  • Iris daun dan letakkan di atas wadah jemur selama beberapa hari dan tutup dengan kain tipis berwarna gelap atau menggunakan oven dengan suhu 40 °C.
  • Setelah kering, masukan ke dalam plastik bersih yang tertutup rapat atau kedap udara.

Gambar 

 Sumber : Plantnet, Global Biodiversity Information Facility (GBIF) & Dari berbagai sumber