Search
Generic filters
QR Code

Ficus virens Aiton (Bunut)

  • Nama Ilmiah: Ficus virens Aiton
  • Nama Lokal: Bunut , Ara Bunut, Ki Bunut, Bunut bangkok, Ki Ara Bunut
  • Ciri Spesifik: Sering memulai hidup sebagai epifit dan memiliki daun yang rontok secara massal sebelum munculnya tunas baru yang berwarna kemerahan.

Ficus virens adalah tumbuhan dari genus Ficus yang ditemukan di Pakistan, India, Asia Tenggara, melalui Malaysia dan ke Australia Utara. Nama umumnya adalah Bunut Bangkok, Ki Ara bunut atau Bunut saja. Secara lokal dikenal sebagai pilkhan dan dalam bahasa Kunwinjku disebut manbornde. Dalam bahasa Inggris Ficus virens disebut sebagai Strangler fig atau pohon Banyan. Seperti kebanyakan buah ara lainnya, buah (ara) Ficus virens bisa dimakan.

Ficus virens merupakan pohon berukuran sedang yang tumbuh hingga ketinggian 24–27 meter di daerah kering dan hingga mencapai >30 meter di daerah basah. Merupakan Ficus yang dikenal sebagai ara pencekik, karena bijinya dapat berkecambah di pohon lain dan tumbuh mencekik hingga akhirnya membunuh pohon inangnya.

Karana karakteristiknya yang unik tersebut Pohon Ficus virens disebut sebut sebut sebagai Strangler Fig (Ara pencekik). Ditambah lagi karena akar udara serta akar tunjang yang dapat tumbuh besar, maka layaklah Ficus virens ini dijuluki Sang “Pencekik” yang Megah.

Tanaman ini mempunyai dua periode pertumbuhan yang mencolok di lingkungan India: pada musim semi (Februari hingga awal Mei), dan pada saat musim hujan (yaitu Juni hingga awal September). Daun barunya memiliki warna merah jambu kemerahan yang indah dan sangat enak dipandang. Ukuran tajuknya terkadang melebihi tinggi pohonnya.

Morfologi

  • Habitus: Pohon besar hingga raksasa dengan tajuk yang melebar luas. Dapat tumbuh menjulang hingga mencapai ketinggian >30 meter. Pohon Ficus virens bersifat meranggas (menggugurkan daun pada musim tertentu).
  • Batang utama besar dan tegak. Kulit batang abu-abu pucat hingga keputihan (asal nama virens). Permukaan relatif halus, pada pohon tua sedikit beralur. Menghasilkan getah putih (lateks) keluar bila terluka.
  • Akar : menghasilkan banyak akar udara (aerial roots) dan akar tunjang (prop roots) yang besar. Sering membentuk akar papan (buttress) besar. Dapat menghasilkan akar gantung/adventif dari cabang.
  • Daun tunggal bertangkai, bentuk memanjang (oblongus), susunan berseling. Ujung & Pangkal Daun: Ujung daun runcing (acutus), pangkal daun tumpul (obtusus). Permukaan daun licin (laevis). Memiliki tekstur halus, agak kaku seperti kulit (leathery), dan berbentuk lonjong (oblong) dengan panjang antara 6 hingga 14 cm. Saat baru tumbuh, daunnya berwarna hijau tua dan terlihat mengkilap.
  • Bunga (syconium) : Memiliki bunga jantan dan betina yang berukuran sangat kecil. Bunga-bunga ini sangat kecil tersembunyi di dalam buah ara. Diserbuki oleh tawon ara spesifik (Platyscapa sp.).
  • Buah semu (ara/syconium), berbentuk bulat kecil–sedang, berdiameter ± 1–1,5 cm, panjang ±3- 6 cm, tumbuh berpasangan atau berkelompok di ketiak daun. Warna: hijau → kuning → merah jingga hingga ungu saat matang. Berbuah tidak terlalu musiman. Utamanya muncul pada bulan Maret hingga September. Didalam buah ini terdapat biji yang hanya bisa ada/terjadi apabila ada penyerbukan oleh tawon ara spesifik.

Daur Hidup

Ficus virens memiliki cara hidup yang sangat unik dan dramatis:

  1. Awal Kehidupan: Biasanya berkecambah di lubang pohon lain. Hal ini terjadi setelah bijinya melewati pencernaan burung dan jatuh di tempat di mana serasah daun berkumpul sebagai sumber nutrisi.
  2. Pertumbuhan: Pohon ini akan menumbuhkan tunas kecil ke arah sinar matahari, sementara akar-akarnya yang ramping mulai menjalar perlahan menuju tanah.
  3. Persaingan: Begitu akar mencapai tanah dan mendapatkan akses air serta nutrisi, pertumbuhannya akan melesat cepat. Ia akan mengirimkan lebih banyak akar untuk melilit batang pohon inang dan berusaha menutupi tajuk pohon tersebut dengan daun-daunnya sendiri agar mendapatkan cahaya matahari.
  4. Tahap Akhir: Seiring pertumbuhan akar, pohon inang akan terhimpit dan akhirnya mati karena “tercekik”. Ketika inang mati dan membusuk, Ficus virens akan menempati ruang kosong tersebut dan memanfaatkan pembusukan inangnya sebagai tambahan nutrisi.

Jaring Kehidupan

  • Ekologi: Berfungsi sebagai vegetasi kunci penyangga sumber air di kawasan konservasi seperti Sumber Jembangan.
  • Mitigasi banjir & longsor : karena sistem perakarannya yang kuat, Ficus virens sangat efektif menahan tanah di bantaran sungai dan dataran banjir.
  • Hubungan Makanan: Tunas muda dan buahnya dimakan oleh berbagai jenis burung dan primata.
  • Ketergantungan: Ficus memiliki hubungan simbiosis yang sangat erat dengan tawon ara (fig wasp). Tawon hanya bisa bereproduksi di dalam rongga buah ara, sementara ara hanya bisa diserbuki oleh tawon tersebut. Keduanya saling bergantung sepenuhnya untuk bertahan hidup.
  • Penyokong Ekosistem: Karena tawon memiliki siklus hidup yang pendek, pohon ara harus berbuah sepanjang tahun. Hal ini menjadikannya sumber makanan yang sangat penting bagi berbagai jenis hewan di hutan.

Potensi

  • Sosial-Budaya: Pohon peneduh utama di banyak desa tradisional. Di Thailand, daunnya direbus sebagai sayuran dalam kari (phak lueat).
  • Ekologi: Sangat efektif dalam menjaga ketersediaan air tanah.
  • Pangan: Buah (ara) Ficus virens dapat dimakan (edible) dan memiliki rasa yang enak.
  • Kerajinan: Kulit dari akar udaranya dapat diolah untuk membuat tali pancing, jaring, tas, hingga keranjang.

Gambar

Sumber : Plantnet, Global Biodiversity Information Facility (GBIF) & Dari berbagai sumber