Gandarusa (Justicia gendarussa)

Tanaman Gandarusa / Daun Rusa atau Kisi kisi (Justicia gendarussa) ini menyerupai bersemak dan pada umumnya merupakan tumbuhan liar yang hidup di hutan, tanggul sungai, atau dipelihara sebagai pengobatan tradisional di Asia tropis. Di Jawa tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian 1-500 meter di atas permukaan laut. Tumbuh tegak dengan tinggi dapat mencapai 2 meter, percabangan banyak, dimulai dari dekat pangkal batang.

Gandarusa termasuk dalam jenis tumbuhan perdu kecil dari famili Acanthaceae (suku jeruju-jerujuan). Nama ilmiah Justicia gendarussa pertama kali dipublikasikan oleh botanis Nicolaas Laurens Burman pada tahun 1768. Di berbagai daerah Indonesia, gandarusa dikenal dengan nama lokal berbeda seperti; Besi-besi (Aceh), Handarusa (Sunda), daun Rusa, Kisi-kisi, Trus/Tetean (Jawa), Kawo (Maluku), dan Puli (Ternate).

Tanaman ini ditengarai berasal dari India dan kemudian menyebar ke daerah tropis seperti Pakistan, Sri Lanka, Indochina, Malaysia seta Indonesia. Di Indonesia selain tumbuh dengan liar, karena bentuknya yang indah, pada umumnya dapat digunakan sebagai tanaman hias serta pagar hidup. Namun saat ini Gandarusa juga sudah dikenal sebagai tanaman obat, bahan kosmetik dalam perawatan wajah. Gandarusa juga sudah dimanfaatkan sebagai biopestisida (pestisida nabati).

Taksonomi

  • Kingdom : Plantae
  • Subkingdom : Tracheobionta
  • Superdivisi : Spermatophyta
  • Divisi : Magnoliophyta
  • Kelas : Magnoliopsida
  • Subkelas : Asteridae
  • Ordo : Scrophulariales
  • Famili : Acanthaceae
  • Genus : Justicia
  • Spesies : Justicia gendarussa Burm.f.
    • Sinonim: Adhatoda subserrata Nees, Dianthera subserrata Blanco, dan Ecbolium gendarussa (Burm.f.) Kuntze.

Morfologi

  • Berakar tunggang dengan warna coklat. Perakaran ini menyokong tanaman perdu kecil yang tumbuh tegak.
  • Batang berkayu, berbentuk segi empat. beruas-ruas, bercabang banyak dengan warna coklat kehitaman, kadang mengkilap.
  • Daun berupa daun tunggal, tipis, berbentuk lanset memanjang, tersusun berhadapan dengan panjang 5–20 cm dan lebar 1–3,5 cm. Warna daun hijau tua dengan permukaan licin.
  • Bunga berwarna ungu pucat atau putih, tersusun dalam tandan (spike) di ujung batang atau ketiak. Mahkota kecil, kelopak berbentuk tabung, agak berambut/malai dengan panjang 3-12 cm.
  • Buah berbentuk ganda, berupa kapsul kecil, memanjang. Buah ini berisi biji berjumlah empat.
  • Biji berukuran relatif kecil, berwarna coklat kehitaman dan keras.

Untuk perbanyakan, tanaman Gandarusa dapat diperbanyak dengan cara vegetatif yakni stek batang dari bagian tanaman yang masih muda.

Kandungan penting

Kandungan penting gandarusa (Justicia gendarussa) meliputi senyawa aktif seperti justicin, minyak atsiri, kalium, dan alkaloid yang memiliki efek farmakologis.

  • Justicin : Senyawa utama yang ditemukan pada daun gandarusa. Berperan dalam aktivitas farmakologis, termasuk efek antiinflamasi dan antireumatik.
  • Minyak atsiri : Memberikan aroma khas. Memiliki potensi sebagai antimikroba dan digunakan dalam pengobatan tradisional.
  • Kalium (K) : Mineral penting yang mendukung fungsi fisiologis tubuh. Berkontribusi pada efek diuretik dan membantu melancarkan peredaran darah.
  • Alkaloid (agak beracun) : Senyawa nitrogen organik dengan aktivitas biologis tinggi. Dalam dosis tepat dapat memberikan efek terapeutik, tetapi berlebihan bisa menimbulkan toksisitas.
  • Sifat kimiawi dan efek farmakologis : rasa pedas, sedikit asam, netral.

Manfaat

  • Gandarusa memiliki efek analgetik, diuretik, dan antispermatozoa. Melancarkan peredaran darah (Circulation promoting, stag-nant blood dispelling), antireumatik.
  • Secara tradisional Gandarusa dimanfaatkan untuk mengobati; Luka terpukul (memar), Tulang patah, Rematik, Bisul, Borok, Koreng.
  • Gendarusa juga memiliki potensi mengatasi penyakit asam urat (Penelitian UI), dimana dari penelitian diperoleh angka hingga 95,66% (hampir mendekati daya sembuh alopurinol sebagai obat modern penyakit asam urat).

Kontrasepsi Alami

  • Masyarakat Papua, khususnya di daerah Sentani, telah sejak lama memperoleh manfaat gandarusa sebagai KB alami untuk pria. Senyawa aktif gandarusa, yaitu gendarusin A dan gendarusin B, dipercaya dapat menghalangi terjadinya pembuahan.
  • Cara kerjanya adalah dengan menurunkan aktivitas enzim hyaluronidase ( enzim yang diperlukan sel sperme untuk menembus sel telur) pada kepala sel sperma.

Patah tulang, bisul

  • Daun yang segar dilumatkan dan yang kering dihaluskan, diaduk dengan cuka secukupnya untuk kompres.

Keseleo, rematik

  • Rebus 15-30 gram daun gandarusa kering atau 30-60 gram gandarusa segar.
  • Minum airnya setelah dingin.

Memar

  • Daun gandarusa diolesi minyak, layukan di atas api.
  • Tempelkan pada tempat yang sakit.

Biopestisida

Gandarusa (Justicia gendarussa) dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati karena kandungan senyawa aktifnya (alkaloid, flavonoid, terpenoid, tanin) yang bersifat antibakteri, antijamur, dan insektisida alami. Ekstrak daunnya mampu menghambat pertumbuhan mikroba patogen serta berpotensi mengendalikan hama tanaman secara ramah lingkungan.

  • Kandungan fitokimia utama: alkaloid, flavonoid, terpenoid, tanin. Senyawa ini berfungsi sebagai antimikroba dan antifeedant (menghambat nafsu makan serangga).
  • Ekstrak daun gandarusa terbukti menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophylla dengan zona hambat ±11 mm.
  • Potensi ini dapat dikembangkan untuk mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri dan jamur.
  • Pemanfaatan dilakukan dengan :
    • Ekstrak daun segar/kering. Daun direbus atau direndam dalam air, kemudian disaring. Larutan digunakan sebagai semprotan pada tanaman untuk mengurangi serangan hama/jamur.
    • Campuran dengan bahan nabati lain. Gandarusa dapat dikombinasikan dengan daun mimba, serai, atau tembakau untuk meningkatkan efektivitas. Untuk sistem pertanian organik, biopestisida ini sangat cocok untuk menyemprot rutin pada tanaman hortikultura (cabai, tomat, sayuran daun) karena tidak meninggalkan residu berbahaya.

Gambar

 Sumber : Global Biodiversity Information Facility (GBIF) & Kitab Tanaman Obat Nusantara