Search
Generic filters
QR Code

Bambu Hitam (Gigantochloa atroviolacea)

Bambu Hitam atau Bambu Wulung memiliki nama ilmiah Gigantochloa atroviolacea . Bambu hitam ini juga memiliki beberapa nama lokal seperti Pring Wulung (Jawa), Awi hitam, Buluh kumbang, dsb. Bambu ini disebut bambu hitam karena warna batangnya hijau kehitam-hitaman atau ungu tua. Rumpun bambu hitam agak panjang. Pertumbuhan bambu ini pun agak lambat. Batangnya tegak dengan tinggi 20 m. Panjang ruas-ruasnya 40–50 cm,tebal dinding buluhnya 8 mm, dan garis tengah buluhnya 6–8 cm. Pelepah batang bambu ini selalu miang yang melekat berwarna coklat tua. Pelepah ini mudah gugur serta kuping pelepah berbentuk bulat dan berukuran kecil (Widjaja dan Karsono, 2004).
Menurut Saefudin dan Rostiwati (2010), pemanfaatan bambu hitam oleh masyarakat Indonesia termasuk tinggi karena dianggap memiliki fungsi serbaguna, mudah diperoleh dan dengan harga yang terjangkau. Komoditi bambu ini juga banyak dilirik oleh eksportir, terutama dalam bentuk barang kerajinan, cinderamata, aksesoris dan perangkat rumah dari bambu.

Morfologi

  • Rebungnya hijau kehitaman dengan ujung jingga, tertutup oleh bulu- bulu miang berwarna cokelat hingga hitam.
  • Buluhnya lurus dan tegak, mencapai tinggi 15 m; garis tengahnya 6-8 cm dan ruas-ruasnya sepanjang 40– 50 cm, tebal dinding buluh 8 mm; hijau gelap ketika muda, berubah menjadi ungu kehijauan hingga kecokelatan gelap, dengan lampang berupa cincin berwarna pucat atau keputihan pada buku-bukunya; buku-buku dekat tanah dengan sedikit akar udara. Percabangan muncul tinggi 2– 3 m di atas tanah; biasanya dengan banyak cabang, yang salah satunya lebih besar daripada yang lain.
  • Pelepah buluh mudah rontok, kecuali yang terbawah yang agak bertahan; panjang 16–20 cm, berbulu miang berwarna cokelat gelap pada sisi luarnya.
  • Daun pelepah buluh bentuk bundar telur atau lonjong menyegitiga dengan pangkal menyempit 4–9 cm panjangnya, terkeluk balik. Kuping pelepah membulat hingga membulat dengan ujung sedikit melengkung keluar, lebar 4 mm dan tinggi 3–5 mm, dengan bulu kejur 7 mm; ligula menggerigi tak beraturan, tinggi 2 mm.
  • Daun pada ranting bentuk lanset, 20-28 × 2–5 cm ; pelepah daun tertutupi oleh rambut keputihan ketika muda; kuping pelepah kecil, hingga 1 mm, ligula menggerigi, tinggi 2 mm.
  • Perbungaan berupa malai pada ranting yang berdaun, dengan kelompok-kelompok hingga 18 spikelet pada masing masing bukunya. Spikelet bentuk lanset bulat telur, 8-11 × 3 mm, berisi 4 floret yang sempurna dan satu floret ujung yang tak sempurna

Pemanfaatan

Bambu Hitam ini sekarang termasuk cukup sulit ditemui karena pemanfaatannya yang banyak serta pertumbuhannya yang lambat. Di satu sisi upaya konservasi Bambu Hitam belum banyak di lakukan.

Bambu wulung (Gigantochloa atroviolacea), atau bambu hitam, memiliki banyak pemanfaatan, terutama sebagai bahan konstruksi, kerajinan dan alat musik. Sebagai Bahan kontruksi Bambu wulung dimanfaatkan sebagai ; dinding bangunan, atap, jembatan, tulangan beton, pondasi bangunan.

Sebagai Kerajinan dan Produk Industri bambu wulung dimanfaatkan sebagai bahan alat musik, bahan furnitur/mebel, bahan perlengkapan rumah dan lain sebagainya. Karena karakter warnanya juga Bambu wulung dipilih guna bahan pembuatan berbagai kerajina seperti; jam tangan, vas bunga, pigura dan lain sebagainya.

Gambar