Pohon elo (Ficus racemosa) memiliki julukan yang berbeda sesuai dengan daerahnya, seperti pohon Elo, Lo (Jawa, Lowa (Sunda), biraeng, arah dan Ara. Nama elo sendiri terkenal di daerah Jawa dan diambil dari nama desa di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur, seperti Desa Logandeng atau Desa Ngelo. Dalam bahasa Sansekerta, pohon ini dikenal dengan nama Udumbara. Sebagai tanaman yang persebarannya sangat luas, pohon loa mempunyai bermacam nama. Inggris memberi nama cluster fig tree, Arab dengan jameez, disebut adamaskidan oleh bangsa Persia, cay sung oleh Vietnam, ju guo rong oleh China, dan masih banyak lagi.

Seperti genus ficus lainnya, pohon elo (Ficus racemosa) memiliki akar yang dalam dan mekanisme konduktansi hidrolik sehingga daya serap airnya tinggi. Karenanya, selain tumbuh secara alami di dataran rendah hutan, pohon elo juga banyak ditemui di sekitar mata air sebagai penahan erosi.

Pohon elo menjadi tanaman yang menghuni tepian sungai karena kemampuannya yang menyerap air dengan efektif. Ficus racemosa (elo) adalah tanaman bantaran sungai yang sangat ideal, karena tahan genangan & banjir, mempunyai perakaran yang kuat sebagai penahan erosi bantaran sungai, menyediakan pakan sepanjang tahun bagi satwa-satwa liar serta menjadi penghubungkan ekosistem darat–air. Ia bukan hanya pohon, tetapi juga penyangga kehidupan sungai.

Bahkan karena habitat alaminya yang banyak terdapat di bantaran sungai, menjadikannya salah satu nama sungai di Jawa tengah tepatnya di Kabupaten Magelang yang bermuara di sungai progo.

Taksonomi

  • Kingdom : Plantae
  • Divisi: Tracheophyta (tumbuhan berpembuluh)
  • Kelas: Magnoliopsida (dikotil)
  • Ordo: Rosales
  • Famili: Moraceae
  • Genus: Ficus
  • Spesies: Ficus racemosa L.
    • Sinonim: Ficus racemosa L., Ficus glomerata Roxb.
    • Nama lokal : Elo, Loa, Lo, Lowo, Ara tandan

Mofologi

  • Berwujud pohon dengan tinggi 17-20 meter.
  • Akar Pohon elo (Ficus racemosa) memiliki sistem perakaran tunggang yang kuat dan dalam. Akar-akarnya menyebar ke permukaan tanah dan mencengkram tanah dengan sangat kuat, menjaga kestabilan tanah. Akar ini juga memiliki kemampuan geotropisme, yaitu kemampuan untuk menembus tanah secara vertikal dari radikula (akar lembaga) yang halus dan bergerak menembus tanah. Struktur akar ini memungkinkan tanaman untuk menopang diri sendiri dan menjaga kestabilan di berbagai kondisi lingkungan. Akar nya dapat beradaptasi dengan baik di berbagai habitat, termasuk di daerah beriklim kering dan gersang. Dengan demikian, akar Pohon elo merupakan salah satu contoh akar yang sangat kuat dan beradaptasi dalam memenuhi kebutuhan hidup tanaman.
  • Batang berwarna coklat atau putih dengan buah yang menempel pada batangnya. Bergetah banyak. Diameter batang dapat mencapai 100 cm. 
  • Daun berbentuk runcing seperti ujung tombak atau elips-lanset dengan panjang daun antara 7-10 cm. Posisi daun di batang berselang-seling, memiliki warna hijau tua, dan dapat berubah menjadi kuning menjelang gugur. Selain itu, daunnya  mengkilap dan bertekstur halus. Tepi daun rata (integer) dan permukaan daun gundul. Pertulangan daun menyirip.
  • Daun Pohon elo memiliki stomata dengan tipe diasitik yang terdapat di permukaan bawah daun (hipostomata) dan trikoma non-glandular bersel satu yang ditemukan pada kedua permukaan daun (adaksial dan abaksial). Struktur daun ini menunjukkan Pohon elo (Ficus racemosa) memiliki kemampuan mengatur keseimbangan air dan gas dalam proses fotosintesis, serta memiliki potensi sebagai sumber fitokimia yang beragam, seperti antioksidan dan anti-inflamasi.
  • Bunga Pohon elo (Ficus racemosa), seperti halnya genus Ficus memiliki bentuk yang khas, berupa bunga Syconium. Bunga ini terdiri dari beberapa bagian yang berbeda, termasuk bagian bunga yang berkombinasi untuk membentuk buah palsu. Bunga muncul pada batang pohon dan memerlukan penyerbukan lebah atau tawon khusus Ficus.
  • Buah ara Pohon elo sebenarnya bukan buah sejati, melainkan bunga yang membesar di pangkal dan kemudian menutup sehingga membentuk bola seperti buah. Stigma dari bunga ini terbungkus dan hanya dapat diserbuki oleh tawon khusus Ficus. Buah semu ini berukuran sekitar 4–6 cm, berwarna hijau atau merah muda ketika sudah matang. Buahnya tumbuh di permukaan batang pohonnya. Pohon elo akan berbuah sepanjang tahun ketika tumbuh di daerah yang cukup lembab, namun, selama musim kering, mereka mungkin kehilangan daunnya!
  • Biji-biji yang kecil dan cokelat ini merupakan hasil dari buah palsu yang terbentuk dari ovarium tunggal yang berkombinasi dengan bagian bunga lainnya, sehingga membentuk buah ganda semu yang bergerombol di batang pohon. Biji-biji yang kecil dan cokelat berjumlah sangat banyak dan tersebar di dalam daging buah berwarna putih. Struktur bunga dan buah semu ini menunjukkan bahwa Ficus racemosa memiliki sistem reproduksi yang kompleks dan efektif dalam penyebaran biji melalui serbuk sari dan polinasi oleh Tawon khusus Ficus.

Jaring Kehidupan

Pohon elo (Ficus racemosa )dikenal sebagai “pohon penyedia kehidupan” (keystone resource) karena menghasilkan buah melimpah dan hampir sepanjang tahun, terutama di habitat riparian (tepi sungai) dan hutan dataran rendah.

  • Produsen Primer (Pusat Jaring): Daun melakukan fotosintesis → sumber energi utama. Tajuk menciptakan naungan & mikroiklim lembap. Menyumbang biomassa dan serasah daun.
  • Mutualisme Wajib (mutualisme obligat): Penyerbukan bunga Ficus racemosa oleh ↔ Tawon Ara (Fig Wasp). Bunga berada di dalam buah ara (syconium). Penyerbukan hanya oleh tawon ara spesifik Ceratosolen sp. Bunga pohon ini tersembunyi di dalam buah semu (buah ara) yang disebut syconium dengan reproduksi seksual monoecious. Agar bunga bisa menjadi biji yang mengandung embrio. ia membutuhkan bantuan tawon penyerbuk. Apabila keberadaan tawon khusus ini tidak ditemukan, proses penyerbukan tidak akan pernah terjadi, sehingga buah yang jatuh ke tanah hanyalah cangkang kosong tanpa biji yang mampu berkecambah. Tanpa tawon → Ficus racemusa tidak berbuah, sebaliknya tanpa Ficus racemusa → tawon punah. Hal ini merupakan simpul paling kritis dalam jaring kehidupan Ficus racemusa (Pohon Elo).
  • Penyedia Pangan Utama (Buah Sepanjang Tahun): Buah Ficus racemusa dimakan oleh Burung frugivora (merpati hutan, rangkong kecil, jalak), Mamalia (monyet ekor panjang, kelelawar buah, tupai, musang) dan Satwa kecil (kelelawar mikro, serangga tertentu). Ficus racemosa sering menjadi sumber pakan darurat saat pohon lain tidak berbuah.
  • Habitat & Tempat Berlindung. Pohon elo (Ficus racemosa) menyediakan habitat 3 dimensi yang kompleks:
    • Buah di batang (kauliflori) → mudah diakses banyak satwa.
    • Rongga batang tua → sarang burung, kelelawar, reptil.
    • Kulit batang & akar → semut, kumbang, laba-laba.
    • Serasah daun → cacing tanah, rayap, mikrofauna.
  • Jaring Makanan (Alur Trofik). Menciptakan sistem perputaran Nutrien. Contoh alur rantai makanannya; Daun → ulat & serangga herbivora. Serangga → burung pemakan serangga. Burung & mamalia kecil → ular, elang. Bangkai & serasah → jamur & bakteri → tanah → Ficus racemosa (Elo)
  • Habitat Pengurai & Mikroorganisme: Jamur & bakteri menguraikan daun dan buah jatuh. Rayap mempercepat dekomposisi kayu tua. Mikoriza meningkatkan serapan hara.
  • Interaksi dengan Lingkungan Abiotik: Akar kuat menahan tanah di tepi sungai. Mengurangi erosi dan menjaga kualitas air. Meningkatkan infiltrasi air dan stabilitas bantaran.

Pohon elo (Ficus racemosa) tidak dominan epifit seperti Ficus benjamina (beringin). Ciri khas daur hidup Ficus racemosa lainnya yakni berbuah di batang (kauliflori), yang menjadikannya kemudaahan akses bagi satwa besar & kecil. Selain itu, Ficus racemosa berbuah sepanjang tahun, menjadikanya penyangga ekosistem (keystone resource). Ficus racemosa (Pohon Elo) dapat mencapai usia ±100–300 tahun, bahkan bisa lebih lama pada kondisi optimal. Pertumbuhan Ficus racemosa stabil di ekosistem riparian dan hutan dataran rendah.

Potensi

  • Potensi mitigasi bencana & perubahan iklim: Ficus racemosa memiliki kemampuan daya serap air yang tinggi, sehingga sangat baik ditanam di pinggir sungai untuk mencegah erosi dan banjir. Akar pohon ini dapat mengikat tanah dengan kuat, menjaga kestabilan tanah dan mengurangi risiko banjir.
  • Penahan Erosi Kuat: Akarnya yang kuat dan tersebar efektif mengikat tanah, mencegah longsor dan banjir, terutama di tepi sungai.
  • Sumber jejaring makanan: Buah Ara (buah semu) Ficus racemosa merupakan sumber makanan bagi berbagai jenis hewan, seperti ara-beo, kutilang, merpati, dan burung enggang. Selain itu, buah ini juga dapat menjadi sumber nutrien bagi ikan.
  • Penjaga sungai: Ficus racemosa yang di sepanjang sungai menciptakan keteduan serta menjaga bantaran sungai. Air saringan dari daun dan buah pohon loa juga berkhasiat menyembuhkan diare, menunjukkan bahwa tanaman ini memiliki kemampuan untuk membersihkan air dan meningkatkan kualitas lingkungan.
  • Keanekaragaman hayati: Ficus racemosa merupakan spesies kunci pada ekosistem hutan karena merupakan rumah bagi hewan hutan. Hal ini menjaga keseimbangan ekosistem dan mempertahankan keanekaragaman hayati.
  • Potensi ekonomi bonsai: Ficus racemosa memiliki nilai estetika yang tinggi dan sering digunakan untuk bonsai. Keunikan akarnya dan warna daun yang cantik membuat pohon ini sering dibuatkan bonsai dengan bermacam gaya.
  • Spesies Kunci: Penting bagi ekosistem hutan sebagai penyedia makanan dan habitat bagi berbagai satwa liar.
  • Manfaat Etnobotani: Kulit dan buahnya digunakan dalam pengobatan tradisional (diare, disentri, luka) dan dapat diolah menjadi makanan.
  • Nilai Budaya: Dihormati dalam agama Hindu (sebagai pohon Udumbara) dan sering dijadikan bonsai karena keunikan akarnya.
  • Potensi herbal: Daun dan buah Pohon elo Ficus racemosa berkhasiat sebagai obat diare. Untuk obat diare dipakai kurang lebih 15 gram daun segar Pohon elo (Ficus racemosa), dicuci, direbus dengan 2 gelas air sampai airnya tinggal setengah, dinginkan dan disaring. Hasil saringan diminum sehari 2 kali sama banyaknya pagi dan sore.

Gambar

 

Sumber : Plantnet, Global Biodiversity Information Facility (GBIF) & Dari berbagai sumber