- Nama Ilmiah : Ficus Benjamina L.
- Nama lokal : Beringin, Waringin, Ringin
- Ciri spesifik : Mempunyai akar gantung (aerial root) yang mencolok. Daun oval, ujung meruncing, hijau mengkilat. Mampu tumbuh sangat tinggi (30 meter).
Ficus benjamina L ini merupakan nama ilmiah dari ficus yang cukup terkenal, yakni Beringin atau Waringin. Pohon beringin merupakan tanaman asli Asia Tenggara termasuk dari Indonesia. Pohon ini sangat akrab dengan budaya asli Indonesia. Bahkan dulu sering kali dianggap suci dan melindungi penduduk setempat. Sesaji sering diberikan di bawah pohon beringin yang telah tua dan berukuran besar karena dianggap sebagai tempat kekuatan magis berkumpul. Beberapa orang menganggap tempat di sekitar pohon beringin adalah tempat yang “angker” dan perlu dijauhi.
Buah Beringin relatif kecil, dan biasanya disukai oleh beberapa burung, seperti walik raja, merpati buah wompoo (Ptilinopus magnificus), merpati buah bintik merah muda (Ptilinopus perlatus), Ptilinopus ornatus, merpati buah berperut oranye (Ptilinopus iozonus), merpati kekaisaran torres (Ducula spilorrhoa, dan merpati kaisar ekor ungu (Ducula rufigaste).
Pohon Beringin memiliki kanopi yang lebar menyebar dan ditunjang oleh akar aerial yang banyak. Namun, karena akar pohon beringin tumbuh sangat invasif, sehingga tidak baik ditanam di pinggir jalan karena dikhawatirkan dapat merusak konstruksi jalan. Selain sebagai tanaman pelindung, beringin dapat dikerdilkan sebagai tanaman hias mini dalam pot (bonsai). Selain itu, akar dan daun beringin dipercaya sebagai obat herbal untuk beberapa macam penyakit.
Morfologi
- Akar pohon beringin termasuk jenis tanaman berakar tunggang dan memiliki akar berwarna coklat. Akar pada pohon ini menyebar sehingga sanggup berperan sebagai penopang pohon besar tersebut. Bentuk persebaran akar pohon beringin mirip jaring sehingga berfungsi pula seperti sebuah jaring yang bisa mengamankan kebutuhan nutrisi pohon tersebut. Ketika sudah dewasa atau berusia tua, tumbuhan ficus atau beringin akan memunculkan akar gantung. Pada akar beringin, setelah mencapai tanah berfungsi menyerap unsur hara dari tanah, bagian yang berada diatas tanah berubah menjadi batang.
- Batang pohon Beringin mencapai tinggi hingga 40−50 m dengan diameter batang mencapai 100−190 cm. Bentuk batang tegak, bulat, bentuk batang seperti silindris percabangan simpodial, permukaan kasar, pada batang tumbuh akar gantung berwarna coklat kehitaman.Namun, ukuran beringin tentunya juga tergantung dari kesuburan pohon itu sendiri.
- Daun pohon Beringin memiliki daun berbentuk oval, daun tunggal, bersilang berhadapan, lonjong, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 3-6 cm, lebar 2-4 cm, bertangkai pendek, pertulangan menyirip, berwarna hijau.Permukaan daun licin (leavis) atau mengkilap (nitidus), memiliki sisik daun : pada daun seperti ini, daun menjadi tipis, kering dan membentuk sebuah membran yang memiliki struktur seperti kertas dan berfungsi melindungi tunas.
- Bunga pohon beringin berupa bunga tunggal dan bentuk kelopak seperti corong dengan warna hijau. Sementara itu, mahkota bunga beringin berbentuk bulat yang berwarna kuning kehijauan sedangkan bagian putik dan benang sari memiliki warna kekuningan dengan permukaan yang halus.Bunga pada tumbuhan beringin umumnya akan tumbuh di area ketiak daun.
- Buah dari pohon beringin ini disebut dengan buah buni berdaging tebal, yakni buah dengan bentuk bulat memanjang dengan panjang 0,5-1 cm.Warna buah beringin terbagi menjadi tiga sesuai usianya. Ketika masih muda buah ini berwarna hijau. Apabila sudah setengah masak akan berwarna kuning. Sedangkan buah yang sudah masak kulit buahnya akan berwarna merah. Buah beringin termasuk buah majemuk dengan tipe Syconus yaitu buah ini berkembang dari hypanthodium inflorescence.
- Biji buah Beringin berbentuk bulat berwarna putih dan mempunyai tekstur yang keras, berbentuk pipih dan letaknya ada di bagian dalam buahnya.Warna biji yang masih muda biasanya kuning pucat sedangkan biji pada buah yang sudah masak akan berwarna kehitaman.Pada dasarnya fungsi biji pada pohon beringin adalah untuk alat kembang biak pohon.
Daur Hidup
- Fase Biji (Perkecambahan), terjadi dalam 2-6 minggu dalam kondisi lembab dan hangat : Beringin menghasilkan buah kecil (syconium/ara) yang berisi ratusan biji sangat kecil. Buah dimakan burung, kelelawar, atau mamalia kecil → biji tersebar melalui kotoran (zoochory). Biji sering berkecambah di tanah, di celah-celah batu, di cabang pohon lain (epifit awal) atau bahkan di celah tembok bangunan.
- Fase Semai (Seedling), dalam rentang 1-3 tahun : Tanaman muda membentuk akar primer dan daun sederhana. Jika tumbuh di pohon lain, beringin awalnya hidup sebagai epifit (bukan parasit). Pada fase ini pertumbuhan masih lambat dan sangat tergantung kelembapan.
- Fase Remaja (Sapling), dalam rentang 5-10 tahun : Batang mulai membesar, daun semakin lebat. Mulai membentuk akar gantung (akar udara) dari cabang-cabang. Jika berasal dari epifit, akar udara akan menjulur ke tanah.
- Fase Dewasa / Produktif, berlangsung sangat lama : Akar udara menyentuh tanah, menebal, dan berubah fungsi menjadi akar penopang (akar tunjang sekunder). Tajuk melebar sangat luas. Mulai berbunga dan berbuah secara rutin. Penyerbukan hanya dapat terjadi oleh tawon ara (fig wasp) yang bersifat spesifik. Pohon bisa menghasilkan buah beberapa kali setahun.
- Fase Tua : Pohon tetap hidup walau sebagian batang utama mati. Akar-akar udara yang telah menjadi batang baru bisa menopang pohon. Terjadi peremajaan alami: satu individu tampak seperti “banyak batang”. Kerusakan satu bagian jarang mematikan seluruh pohon.
Jaring Kehidupan
Beringin memiliki usia rata-rata 200–500 tahun. Dalam kondisi lingkungan yang mendukung, potensi usia maksimal mencapai >700 tahun lebih, bahkan secara fungsional bisa mendekati 1000 tahun karena regenerasi batang dari akar udara. Itulah sebabnya beringin sering dianggap simbol keabadian, keteduhan, dan penyangga kehidupan dalam budaya Nusantara.
Pohon beringin sering disebut “spesies kunci” (keystone species) karena keberadaannya menopang banyak organisme lain. Jika beringin hilang, struktur ekosistem sekitarnya ikut terganggu. Pohon beringin bukan sekadar pohon besar, tetapi poros ekosistem. Ia memberi makan, tempat tinggal, perlindungan, dan keseimbangan bagi ratusan organisme—itulah sebabnya beringin disebut penyangga kehidupan hutan tropis:
- Produsen Utama. Beringin berperan sebagai produsen primer. ➡ Energi dari beringin mengalir ke banyak tingkat trofik :
- Daun melakukan fotosintesis → menghasilkan energi dan biomassa.
- Tajuk besar menyediakan naungan, kelembapan, dan mikroiklim.
- Hubungan Mutualisme obligat (saling tergantung total) antara Beringin dengan Tawon Ara (Fig Wasp). Bunga beringin berada di dalam buah ara (syconium). Karenanya, penyerbukan hanya bisa dilakukan oleh satu atau beberapa spesies tawon ara yang sangat spesifik. Tanpa peran tawon ini, beringin tidak berbuah. Sebalilknya tanpa beringin, Tawon ara (Fig Wasp) ini dapat punah.
- Penyedia Pangan (Frugivora & Herbivora).
- Buah beringin (Ara) dimakan oleh berbagai spesies burung ( kutilang, jalak, merpati, tekukur), spesies mamalia (kelelawar pemakan buah, tupai, musang) , reptil dan serangga tertentu. Hewan-hewan ini sekaligus menjadi penyebar biji (disperser).
- Daun & getah dimakan oleh ulat, belalang, kumbang daun dan beberapa jenis serangga khusus Ficus.
- Habitat & Tempat Berlindung. Beringin adalah “apartemen ekologis bertingkat” yang menyediakan:
- Rongga batang → tempat sarang burung, kelelawar, tokek
- Akar gantung & tajuk lebat → tempat berlindung laba-laba, semut, lebah liar
- Serasah daun → habitat cacing tanah, rayap, mikrofauna
- Pohon pusat aktivitas satwa.
- Tajuk pohon Titik → istirahat dan orientasi bagi burung migran lokal.
Peran Rantai Makanan
- Alur sederhana : Daun → serangga herbivora. Serangga → burung pemakan serangga. Burung & mamalia kecil → ular, elang. Bangkai & daun gugur → jamur & bakteri → tanah subur → beringin.
- Hubungan dengan Mikroorganisme, pohon Beringin membentuk jaring kehidupan mikro yang padat : Jamur mikoriza meningkatkan penyerapan air & mineral. Bakteri tanah menguraikan serasah daun. Lumut & paku epifit hidup di batang tanpa merugikan.
Interaksi dengan Lingkungan Abiotik
- Akar kuat menahan tanah dan mengurangi erosi.
- Tajuk besar menurunkan suhu lokal (pendinginan mikro).
- Menyerap karbon dalam jumlah besar.
- Menyimpan air dan meningkatkan infiltrasi tanah.
Potensi
- Ekonomi : Pohon beringin sering dijadikan tanaman hias di taman, rumah, dan ruang publik. Penjualan bibit dan tanaman beringin memberikan peluang ekonomi bagi para petani dan penjual tanaman. Kayu pohon beringin, meskipun tidak sekuat kayu lainnya, dapat digunakan dalam pembuatan mebel dan kerajinan tangan.
- Sosial-budaya : Di beberapa daerah, pohon beringin memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi. Beringin juga dianggap memiliki nilai filosofi yang tinggi. Daun beringin juga diteliti berkhasiat sebagai obat influenza, radang saluran napas (bronkitis), batuk rejan (pertusis), malaria, radang usus akut, disentri, dan kejang panas pada anak- anak. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa akar udara /akar gantung dari pohon beringin memiliki kandungan fenol, zat gula dan juga asam amino. Kandungan zat tersebut dapat berpotensi mengobati beberapa keluhan penyakit, seperti demam tinggi, rematik, influenza, luka memar, radang amandel, kejang pada anak, disentri, malaria hingga radang usus akut.
- Ekologi : Manfaat Pohon beringin banyak dimanfaatkan sebagai tanaman peneduh di taman kota ataupun alun-alun. Sistem perakarannya yang dapat menyimpan air dengan baik juga membuat beringin dimanfaatkan sebagai tanaman konservasi air dan ditanam di sekitar kawasan mata air atau sumber-sumber air. Beringin mampu menghasilkan oksigen dalam jumlah yang besar. Bentuk kanopi pohon yang besar dan lebar serta sifat tumbuhan yang evergreen (selalu hijau) memberikan efek mendinginkan suhu udara sekitarnya. Beringin juga memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar, sehingga menjaga ketersediaan sumber air didekatnya. Sistem perakaran beringin bercorak lateral yang mampu mencengkeram tanah dengan kuat yang menyebabkan tanah di sekitar pohon relatif kokoh dan memiliki resistensi yang tinggi terhadap longsor. Beringin juga menjadi habitat berbagai satwa, seperti burung, reptil, serangga, dan primata, sehingga menjadi tempat interaksi biotik yang kompleks.
Gambar





















Sumber : Plantnet, Global Biodiversity Information Facility (GBIF) & Dari berbagai sumber