- Nama Ilmiah: Ficus hispida
- Nama Lokal: Bisoro (Lampung), luwingan (Jawa), bisoroh (Bali)
- Ciri Spesifik: Buah (ara) bertangkai panjang yang muncul dalam rangkaian menggantung dari batang atau cabang besar
Ficus hispida juga dikenal sebagai bisoro atau luwingan ini termasuk jenis ara tropis yang berwujud pohon kecil sampai ukuran sedang. Ficus hispida tersebar dengan baik dan dapat tumbuh di tepian sungai, tanah kosong, lahan terlantar sampai dengan sudut konstruksi bangunan. Ficus hispida secara morfologi berumah dua (ginodioesious), tetapi secara fungsional dioesious, dimana pohon jantan bersifat hermafrodit dengan bunga jantan yang menghasilkan serbuk sari dan bunga putik yang hampir tidak menghasilkan biji tetapi dapat membentuk empedu yang berisi larva tawon penyerbuk. Pohon betina mempunyai bunga putik yang menghasilkan biji tetapi tidak ramah terhadap larva tawon penyerbuk.
Pohon ini tersebar banyak bagian Asia dan tenggara hingga Australia. Ada berbagai macam nama umum lokal. Seperti sejumlah ficus, daunnya terasa seperti amplas saat disentuh, sehingga dalam bahasa inggris disebut sebagai ‘Hairy fig’. Ciri yang kas juga adalah buah ara-nya yang menggantung pada batang yang panjang.
Di wilayah pedesaan, Luwingan (Ficus hispida) masih mudah dijumpai. Buahnya banyak dan menjuntai. Indah secara estetika, juga banyak manfaat. Dikutip dari berbagai sumber, di banyak negara Asia, buah, akar, & kulit luwingan dimanfaatkan untuk mengobati penyakit.
Morfologi
- Habitus: Merupakan tumbuhan berwujud pohon kecil atau perdu dengan tinggi batang berkisar antara 10–14 meter dan diameter sekitar 17,19–21,01 cm.
- Batangnya berwarna abu-abu, bercabang banyak, serta mengandung getah.
- Daun: Berupa daun tunggal bertangkai dengan susunan berseling atau berhadapan (opposite). Bentuk daunnya eliptis atau menyerupai jantung, dengan ujung daun meruncing (acuminatus) dan bagian tepi daun bergerigi (dentatus). Baik permukaan bagian atas maupun bawah daun terasa kasar dan berbulu (scaber), mirip dengan tekstur kertas amplas (sehingga dalam bahasa Inggris sering disebut hairy fig).
- Buah Semu (Ara): Buah aranya bertangkai panjang dan khas karena muncul dalam rangkaian yang menggantung langsung dari batang utama atau cabang-cabang yang besar. Buahnya berwarna hijau saat masih muda, berubah menjadi kuning ketika masak, serta memiliki bintik-bintik putih di permukaannya.(buah ara) pada. Ficus hispida memiliki sifat yang fleksibel; buahnya dapat muncul berpasangan di ketiak daun (axillary), tetapi yang paling khas adalah tumbuh secara cauliflory alias menggelantung bergerombol dalam jumlah banyak langsung pada batang utama atau cabang yang sudah tua.
Daur Hidup
Daur hidup Ficus hispida (luwingan/bisoro) sangat bergantung pada interaksi simbiosis mutualisme obligat dengan tawon penyerbuk spesifik (Ceratosolen solmsii dari famili Agaonidae). Pohon ini memiliki sifat fungsional berumah dua (dioecious), sehingga daur hidupnya melibatkan dua jenis pohon yang berbeda (pohon betina dan pohon jantan/hermafrodit):
- Pohon Betina:
- Memiliki bunga putik bertangkai panjang.
- Berfungsi menghasilkan biji yang fertil untuk reproduksi tanaman.
- Bentuk bunganya dirancang agar tawon ara tidak bisa bertelur di sana; tawon yang masuk hanya akan memindahkan serbuk sari lalu mati di dalam buah.
- Pohon Jantan (Hermafrodit Fungsional):
- Memiliki bunga jantan (penghasil serbuk sari) dan bunga betina bertangkai pendek (gall flowers).
- Berfungsi sebagai tempat berkembang biak tawon ara. Tawon betina dapat dengan mudah bertelur di dalam gall flowers.
- Tahapan Daur Hidup & Interaksi dengan Tawon
- Penyerbukan Pohon Betina (Pembentukan Biji): Tawon betina yang membawa serbuk sari dari pohon jantan masuk ke dalam syconium (buah ara) pohon betina melalui celah kecil (ostiole). Tawon menyerbuki bunga-bunga betina di dalam. Karena tidak bisa bertelur, tawon mati di dalam buah, sementara bunga yang dibuahi berkembang menjadi biji.
- Penyebaran Biji & Perkecambahan: Buah matang pada pohon betina dimakan oleh satwa frugivora (seperti burung pemakan buah, kelelawar, musang, dan mamalia kecil). Biji dikeluarkan bersama kotoran satwa (endozookori) di berbagai tempat seperti tanah kosong, tepi sungai, hingga celah bebatuan/bangunan.Biji berkecambah dan tumbuh melalui fase semai, tiang, hingga menjadi pohon dewasa (mencapai tinggi sekitar 10–14 meter).
- Siklus Tawon pada Pohon Jantan (Perkembangbiakan Tawon): Tawon betina lain masuk ke dalam buah pada pohon jantan dan meletakkan telurnya di dalam gall flowers. Telur menetas menjadi larva dan berkembang di dalam empedu buah. Tawon jantan baru menetas lebih dulu, mengawini tawon betina yang masih di dalam empedu, lalu membuat lubang keluar dari buah. Tawon betina menetas, mengumpulkan serbuk sari dari bunga jantan di dekat pintu keluar, lalu terbang membawa serbuk sari untuk mencari buah ara baru (baik pohon jantan untuk bertelur kembali maupun pohon betina untuk penyerbukan).
Jaring Kehidupan
- Simbiosis: Bersimbiosis dengan tawon Agaonidae untuk polinasi. Ficus Hispida memerlukan Tawon Ara. Penyerbukan hanya terjadi oleh tawon ara tertentu. Hubungan saling ketergantungan mutlak :
- Tanpa tawon → tak berbuah
- Tanpa ficus → tawon punah
- Penyedia Pangan. Buah dimakan oleh: Burung pemakan buah, Kelelawar, Mamalia kecil (tupai, musang). Memiliki peran sebagai penyedia pakan cadangan saat buah lain langka.
- Habitat Organisme. Meskipun tidak seperti Ficus benjamina, secara berjenjang Ficus lyrata menyediakan:
- Daun & cabang → serangga herbivora
- Rongga batang → reptil kecil, serangga
- Alur Rantai Makanan: dapat membentuk siklus nutrisi tertutup.
- Daun → serangga
- Serangga → burung & reptil kecil
- Burung & mamalia kecil → predator (ular, raptor)
- Daun gugur → jamur & bakteri → tanah subur → ficus
- Pengurai & Mikroorganisme: Jamur dan bakteri menguraikan serasah daun besar. Mikoriza membantu penyerapan nutrisi. Lumut dan epifit kecil hidup di kulit batang.
- Interaksi Lingkungan (abiotik):
- Menahan tanah pada lereng ringan.
- Menyerap karbon.
- Mengatur kelembapan udara lokal.
- Menjadi “pulau hijau” di lanskap terfragmentasi.
Potensi
- Potensi Herbal
- Pucuk daun yang dicampur alang-alang digunakan sebagai obat sesak nafas dan buahnya untuk mengobati penyakit kulit. Di Asia Barat digunakan sebagai obat-obatan.
- Di India kulit kayu luwingan dimanfaatkan untuk mengobati penyakit batuk serta ekstrak air panas kulit kayu keringnya digunakan untuk mengobati anemia, penyakit kuning, dan kusta. Di Bangladesh, akar keringnya diminum bersamaan dengan air beras dan dapat mengurangi rasa sakit ketika menstruasi. Sementara di Malaysia, ekstrak air panas daun luwingan dimanfaatkan untuk membantu proses kelahiran.
- Potensi ekonomi
- Buah yang dicampur dedak dimanfaatkan sebagai pakan itik atau ayam untuk meningkatkan produksi telur.
- Potensi Ekologi: Sumber pakan bagi satwa hutan.
Gambar




































Sumber : Plantnet, Global Biodiversity Information Facility (GBIF) & Dari berbagai sumber