- Nama Ilmiah : Ficus racemosa L., Ficus glomerata Roxb.
- Nama lokal : Elo, Loa, Lo, Lowo, Ara tandan
- Ciri spesifik : Berbuah (buah semu) sepanjang tahun. Buah (semu) bergerombol di batang dan dahan (cauliflory)
Ficus racemosa memiliki julukan yang berbeda sesuai dengan daerahnya, seperti pohon Elo, Lo (Jawa, Lowa (Sunda), biraeng, arah dan Ara. Nama elo sendiri terkenal di daerah Jawa dan diambil dari nama desa di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur, seperti Desa Logandeng atau Desa Ngelo. Dalam bahasa Sansekerta, pohon ini dikenal dengan nama Udumbara. Sebagai tanaman yang persebarannya sangat luas, Ficus racemosa mempunyai bermacam nama. Inggris memberi nama cluster fig tree, Arab dengan jameez, disebut adamaskidan oleh bangsa Persia, cay sung oleh Vietnam, ju guo rong oleh China, dan masih banyak lagi.
Ficus racemosa adalah salah satu jenis ficus yang telah dibudidayakan sejak 5000 SM, dan berasal dari Asia Barat. Tanaman ini banyak tersebar di daerah beriklim subtropis dan tropis. Tak heran, famili dari Moraceae ini dapat beradaptasi dengan baik sekalipun di daerah beriklim kering ataupun gersang. Pusat persebaran tanaman ini berada di negara Indomalesia, termasuk Indonesia.
Seperti genus ficus lainnya, Ficus racemosa memiliki akar yang dalam dan mekanisme konduktansi hidrolik sehingga daya serap airnya tinggi. Karenanya, selain tumbuh secara alami di dataran rendah hutan, Ficus racemosa juga banyak ditemui di sekitar mata air sebagai penahan erosi.
Ficus racemosa berasal dari Asia Barat. Tanaman ini telah dibudidayakan sejak 5000 SM dan telah menyebar ke berbagai wilayah di Asia, termasuk Pakistan, Sri Lanka, India, Bangladesh, China Selatan dan Barat Daya (Yunnan), Nepal, Vietnam, Burma, Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Australia Utara. Dengan distribusi yang luas ini, Ficus racemosa telah menjadi salah satu jenis ficus yang paling umum ditemukan di berbagai ekosistem hutan di Asia.
Ficus racemosa dapat ditemukan di berbagai habitat yang beragam, tetapi umumnya tumbuh di daerah yang lembab dan memiliki ketersediaan air yang cukup. Ficus racemosa tumbuh baik di hutan yang selalu hijau maupun hutan gugur, menunjukkan adaptasinya dengan berbagai kondisi lingkungan. Ficus racemosa sering ditemukan di daerah lembab, seperti tepi sungai, yang memungkinkannya menyerap air dengan efektif. Ficus racemosa dapat tumbuh hingga ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut, menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai tingkat ketinggian. Ficus racemosa tumbuh secara terrestrial, yaitu di tanah darat, dan dapat menyebar di berbagai jenis tanah yang subur. Dengan demikian, Ficus racemosa adalah tanaman yang sangat beradaptasi dan dapat tumbuh di berbagai kondisi lingkungan, membuatnya umum dijumpai di berbagai daerah tropis dan subtropis.
Mofologi
- Berwujud pohon dengan tinggi 17-20 meter.
- Akar Ficus racemosa memiliki sistem perakaran tunggang yang kuat dan dalam. Akar-akarnya menyebar ke permukaan tanah dan mencengkram tanah dengan sangat kuat, menjaga kestabilan tanah. Akar ini juga memiliki kemampuan geotropisme, yaitu kemampuan untuk menembus tanah secara vertikal dari radikula (akar lembaga) yang halus dan bergerak menembus tanah. Struktur akar ini memungkinkan tanaman untuk menopang diri sendiri dan menjaga kestabilan di berbagai kondisi lingkungan. Akar Ficus racemosa juga dapat beradaptasi dengan baik di berbagai habitat, termasuk di daerah beriklim kering dan gersang. Dengan demikian, akar Ficus racemosa merupakan salah satu contoh akar yang sangat kuat dan beradaptasi dalam memenuhi kebutuhan hidup tanaman.
- Batang berwarna coklat atau putih dengan buah yang menempel pada batangnya. Bergetah banyak. Diameter batang dapat mencapai 100 cm.
- Daun berbentuk runcing seperti ujung tombak atau elips-lanset dengan panjang daun antara 7-10 cm. Posisi daun di batang berselang-seling, memiliki warna hijau tua, dan dapat berubah menjadi kuning menjelang gugur. Selain itu, daunnya mengkilap dan bertekstur halus. Tepi daun rata (integer) dan permukaan daun gundul. Pertulangan daun menyirip.
- Daun Ficus racemosa memiliki stomata dengan tipe diasitik yang terdapat di permukaan bawah daun (hipostomata) dan trikoma non-glandular bersel satu yang ditemukan pada kedua permukaan daun (adaksial dan abaksial). Struktur daun ini menunjukkan Ficus racemosa memiliki kemampuan mengatur keseimbangan air dan gas dalam proses fotosintesis, serta memiliki potensi sebagai sumber fitokimia yang beragam, seperti antioksidan dan anti-inflamasi.
- Bunga Ficus racemosa, seperti halnya genus Ficus memiliki bentuk yang khas, berupa bunga Syconium. Bunga ini terdiri dari beberapa bagian yang berbeda, termasuk bagian bunga yang berkombinasi untuk membentuk buah palsu. Bunga muncul pada batang pohon dan memerlukan penyerbukan lebah atau tawon khusus Ficus.
- Buah Ficus racemosa sebenarnya bukan buah sejati, melainkan bunga yang membesar di pangkal dan kemudian menutup sehingga membentuk bola seperti buah. Stigma dari bunga ini terbungkus dan hanya dapat diserbuki oleh tawon khusus Ficus. Buah semu ini berukuran sekitar 4–6 cm, berwarna hijau atau merah muda ketika sudah matang. Buahnya tumbuh di permukaan batang pohonnya. Ficus racemosa akan berbuah sepanjang tahun ketika tumbuh di daerah yang cukup lembab, namun, selama musim kering, mereka mungkin kehilangan daunnya!
- Biji-biji yang kecil dan cokelat ini merupakan hasil dari buah palsu yang terbentuk dari ovarium tunggal yang berkombinasi dengan bagian bunga lainnya, sehingga membentuk buah ganda semu yang bergerombol di batang pohon. Biji-biji yang kecil dan cokelat berjumlah sangat banyak dan tersebar di dalam daging buah berwarna putih. Struktur bunga dan buah semu ini menunjukkan bahwa Ficus racemosa memiliki sistem reproduksi yang kompleks dan efektif dalam penyebaran biji melalui serbuk sari dan polinasi oleh Tawon khusus Ficus.
Daur Hidup
Ficus racemosa tidak dominan epifit seperti Ficus benjamina (beringin). Ciri khas daur hidup Ficus racemosa lainnya yakni berbuah di batang (kauliflori), yang menjadikannya kemudaahan akses bagi satwa besar & kecil. Selain itu, Ficus racemosa berbuah sepanjang tahun, menjadikanya penyangga ekosistem (keystone resource).
Ficus racemosa (Pohon Elo) dapat mencapai usia ±100–300 tahun, bahkan bisa lebih lama pada kondisi optimal. Pertumbuhan Ficus racemosa stabil di ekosistem riparian dan hutan dataran rendah. Secara umum daur hidupnya di habitat alami:
- Fase Biji/Generatif (2-6 minggu): Ficus racemosa menghasilkan buah ara (syconium) yang tumbuh berkelompok di batang dan cabang besar (kauliflori/ramiflori). Setiap buah berisi ratusan biji sangat kecil. Penyerbukan terjadi melalui tawon ara spesifik (mutualisme obligat). Kemudian buah matang dimakan burung, kelelawar, monyet, dan mamalia lain → penyebaran biji (zoochory). Biji tersebut berkecambah dalam 2–6 minggu pada kondisi lembap.
- Fase Semai/Seedling (1-3 tahun): Bibit tumbuh cepat di tanah aluvial, tepi sungai, atau hutan terbuka. Tidak se-epifit ficus lain; lebih sering tumbuh langsung di tanah. Daun muda lembut, hijau terang.
- Fase Remaja/Sapling (5-10 tahun): Batang mulai menebal, percabangan meningkat. Sistem akar berkembang kuat, toleran terhadap genangan sementara. Pertumbuhan tajuk mulai melebar.
- Fase Dewasa / Produktif: Tinggi dapat mencapai 15–25 meter. Mulai menghasilkan buah dalam jumlah besar dan berkelompok di batang utama. Berbuah asinkron dan berulang sepanjang tahun. Menjadi sumber pakan utama satwa saat buah lain langka.
- Fase Tua & Regenerasi: Batang besar dan kokoh, dapat berongga. Tetap produktif walau tua. Regenerasi alami berlangsung terus melalui biji yang disebarkan satwa.
Ficus racemosa memiliki daur hidup panjang dan stabil, dengan peran ekologis sangat penting sebagai penyedia buah sepanjang tahun bagi satwa hutan dan riparian. Karena itu pohon elo sering disebut “pohon penyangga kehidupan” dalam ekosistem tropis.
Jaring Kehidupan
Ficus racemosa dikenal sebagai “pohon penyedia kehidupan” (keystone resource) karena menghasilkan buah melimpah dan hampir sepanjang tahun, terutama di habitat riparian (tepi sungai) dan hutan dataran rendah.
- Produsen Primer (Pusat Jaring): Daun melakukan fotosintesis → sumber energi utama. Tajuk menciptakan naungan & mikroiklim lembap. Menyumbang biomassa dan serasah daun.
- Mutualisme Wajib (mutualisme obligat): Penyerbukan bunga Ficus racemosa oleh ↔ Tawon Ara (Fig Wasp). Bunga berada di dalam buah ara (syconium). Penyerbukan hanya oleh tawon ara spesifik Ceratosolen sp. Bunga pohon ini tersembunyi di dalam buah semu (buah ara) yang disebut syconium dengan reproduksi seksual monoecious. Agar bunga bisa menjadi biji yang mengandung embrio. ia membutuhkan bantuan tawon penyerbuk. Apabila keberadaan tawon khusus ini tidak ditemukan, proses penyerbukan tidak akan pernah terjadi, sehingga buah yang jatuh ke tanah hanyalah cangkang kosong tanpa biji yang mampu berkecambah. Tanpa tawon → Ficus racemusa tidak berbuah, sebaliknya tanpa Ficus racemusa → tawon punah. Hal ini merupakan simpul paling kritis dalam jaring kehidupan Ficus racemusa (Pohon Elo).
- Penyedia Pangan Utama (Buah Sepanjang Tahun): Buah Ficus racemusa dimakan oleh Burung frugivora (merpati hutan, rangkong kecil, jalak), Mamalia (monyet ekor panjang, kelelawar buah, tupai, musang) dan Satwa kecil (kelelawar mikro, serangga tertentu). Ficus racemosa sering menjadi sumber pakan darurat saat pohon lain tidak berbuah.
- Habitat & Tempat Berlindung. Ficus racemosa menyediakan habitat 3 dimensi yang kompleks:
- Buah di batang (kauliflori) → mudah diakses banyak satwa.
- Rongga batang tua → sarang burung, kelelawar, reptil.
- Kulit batang & akar → semut, kumbang, laba-laba.
- Serasah daun → cacing tanah, rayap, mikrofauna.
- Jaring Makanan (Alur Trofik). Menciptakan sistem perputaran Nutrien. Contoh alur rantai makanannya; Daun → ulat & serangga herbivora. Serangga → burung pemakan serangga. Burung & mamalia kecil → ular, elang. Bangkai & serasah → jamur & bakteri → tanah → Ficus racemosa (Elo)
- Habitat Pengurai & Mikroorganisme: Jamur & bakteri menguraikan daun dan buah jatuh. Rayap mempercepat dekomposisi kayu tua. Mikoriza meningkatkan serapan hara.
- Interaksi dengan Lingkungan Abiotik: Akar kuat menahan tanah di tepi sungai. Mengurangi erosi dan menjaga kualitas air. Meningkatkan infiltrasi air dan stabilitas bantaran.
Potensi
- Potensi mitigasi bencana & perubahan iklim: Ficus racemosa memiliki kemampuan daya serap air yang tinggi, sehingga sangat baik ditanam di pinggir sungai untuk mencegah erosi dan banjir. Akar pohon ini dapat mengikat tanah dengan kuat, menjaga kestabilan tanah dan mengurangi risiko banjir.
- Penahan Erosi Kuat: Akarnya yang kuat dan tersebar efektif mengikat tanah, mencegah longsor dan banjir, terutama di tepi sungai.
- Sumber jejaring makanan: Buah Ara (buah semu) Ficus racemosa merupakan sumber makanan bagi berbagai jenis hewan, seperti ara-beo, kutilang, merpati, dan burung enggang. Selain itu, buah ini juga dapat menjadi sumber nutrien bagi ikan.
- Penjaga sungai: Ficus racemosa yang di sepanjang sungai menciptakan keteduan serta menjaga bantaran sungai. Air saringan dari daun dan buah pohon loa juga berkhasiat menyembuhkan diare, menunjukkan bahwa tanaman ini memiliki kemampuan untuk membersihkan air dan meningkatkan kualitas lingkungan.
- Keanekaragaman hayati: Ficus racemosa merupakan spesies kunci pada ekosistem hutan karena merupakan rumah bagi hewan hutan. Hal ini menjaga keseimbangan ekosistem dan mempertahankan keanekaragaman hayati.
- Potensi ekonomi bonsai: Ficus racemosa memiliki nilai estetika yang tinggi dan sering digunakan untuk bonsai. Keunikan akarnya dan warna daun yang cantik membuat pohon ini sering dibuatkan bonsai dengan bermacam gaya.
- Spesies Kunci: Penting bagi ekosistem hutan sebagai penyedia makanan dan habitat bagi berbagai satwa liar.
- Manfaat Etnobotani: Kulit dan buahnya digunakan dalam pengobatan tradisional (diare, disentri, luka) dan dapat diolah menjadi makanan.
- Nilai Budaya: Dihormati dalam agama Hindu (sebagai pohon Udumbara) dan sering dijadikan bonsai karena keunikan akarnya.
- Potensi herbal: Daun dan buah Ficus racemosa berkhasiat sebagai obat diare. Untuk obat diare dipakai kurang lebih 15 gram daun segar Ficus racemosa , dicuci, direbus dengan 2 gelas air sampai airnya tinggal setengah, dinginkan dan disaring. Hasil saringan diminum sehari 2 kali sama banyaknya pagi dan sore.
Gambar





























Sumber : Plantnet, Global Biodiversity Information Facility (GBIF) & Dari berbagai sumber