Pernahkah Anda membayangkan dua burung raksasa melesat di langit hutan, lalu saling menabrakkan kepala dengan suara benturan yang keras? Duel ini sering terjadi di batas wilayah kekuasaan mereka, biasanya dipicu oleh keberadaan pohon Ficus yang sedang berbuah.
Di kedalaman hutan hujan Kalimantan, terdapat hubungan istimewa yang menjadi pilar ekosistem, yakni interaksi antara para Ficus dan Rangkong Gading / Enggang Gading (Buceros vigil, Rhinoplax vigil). Bukan sekadar hubungan makan-memakan, ini adalah cerita tentang bertahan hidup, perebutan wilayah, dan keseimbangan alam yang rapuh.



Rangkong Gading: Sang Penjaga yang Langka
Di seluruh dunia terdapat 54 jenis burung Rangkong, sementara Rangkong Gading adalah yang terbesar sekaligus paling langka di antara 8 jenis Rangkong di Kalimantan. Karena itu, rangkong gading termasuk dalam jenis fauna yang dilindungi oleh undang-undang di Indonesia serta dijadikan maskot provinsi Kalimantan Barat. Rangkong Gading memimiliki ciri khas yang mudah dikenali karena ukurannya yang besar, punya ekor tengah lebih panjang daripada ekor di sekitarnya (dapat mencapai panjang 140–170 cm), serta tanduk kotak padat (casque) menyerupai gading berwarna kuning-merah yang duduk di atas paruhnya. Tragisnya, tanduk inilah yang membuatnya menjadi target utama perburuan liar.
Suaranya yang khas juga mudah dikenali; satu seri nada “tuk” yang mantap dipercepat menjadi suara “tii-pup” sebelum suara mirip trompet “tutt, tutt,..” yang sangat keras dan berulang-ulang.
Di alam, tanduk atau gading ini bukan sekadar hiasan. Ia berfungsi sebagai penyerap guncangan saat Rangkong menggunakan paruhnya sebagai pahat untuk berburu hewan di lubang pohon, serta menjadi pelindung tengkorak saat mereka melakukan duel udara (aerial jousting).
Duel Udara demi Sepohon Ara
Pernahkah Anda membayangkan dua burung raksasa melesat di langit hutan, lalu saling menabrakkan kepala dengan suara benturan yang keras? Duel ini sering terjadi di batas wilayah kekuasaan mereka, biasanya dipicu oleh keberadaan pohon Ficus yang sedang berbuah. Bagi Rangkong Gading, pohon Ficus bukan sekadar sumber makanan, melainkan “harta karun” yang harus dipertahankan mati-matian.



Menu Utama: 95% Buah Ficus
Jika burung lain memiliki diet yang beragam, Rangkong/Enggang Gading adalah spesialis sejati. Di berbagai wilayah (Kalimantan Timur, Thailand, hingga Sumatra), penelitian menunjukkan bahwa buah Ficus mencakup hingga 95% dari makanan mereka dibandingkan 50% makanan dari jenis memangsa hewan-hewan.
Beberapa Pengamatan mengenai perilaku makan Rangkon Gading sebagai berikut ;
- Di Kutai Kalimantan, E Leighton (1986) melaporkan; Sepasang burung Rangkong Gading mengabiskan 50% kebutuhan makannya dengan memangsa hewan-hewan lainnya, seperti kadal, burung sampai dengan tupai. Sisanya (50%) mereka akan hanya memakan buah ara (buah ficus), buhan memakan buah dari jenis lainnya.
- Di Krau Malaysia, Frank Lambert (1989) menemukan; Rangkong Gading hanya memakan 10 dari 38 jenis Ficus yang berbuah selama 3 tahun periode pengamatannya. Rangkong Gading agaknya menyukai buah ara yang berukuran besar dari jenis Ara pencekik/Stranggling figs (subseksi Conosycea), seperti; Ficus delosyce, Ficus sundaica, Ficus pellucidopunctata, Ficus crassiramea, Ficus cucurbitina, Ficus dubia, Ficus stupenda, Ficus drupacea and Ficus subcordata. Sementara buah yang diabaikan adalah dari jenis Ficus besar merambat Ficus punctata, Ficus dengan buah-buah berukuran kecil dari subgenus Sycidium dan dari subgenus Conosycea.
- Di Hala Bala Thailand, Kitamura et al (2011) menemukan; 7 spesies lokal Rangkong memakan setidaknya 93 jenis buah termasuk didalamnya 10 dari jenis Ficus. Burung Rangkong gading secara khusus hanya memakan 7 jenis buah-buahan dimana keempatnya adalah dari jenis Ficus, temasuk didalamnya; Ficus benjamina, Ficus cucurbitina, Ficus dubia dan Ficus Sundaica.
- At Bukit Barisan Selatan in Sumatra Hadiprakarsa and Kinnaird (2004) found that 4 different hornbill species fed on 64 different species of fruits of which 15 were figs. However Helmeted Hornbills fed exclusively on 12 different species of figs plus animal prey. These figs included F. albipila, F. crassiramea, F. drupacea, F. microcarpa, F. stupenda, F. undaica and F. benjamina.
- Di Bukit Barisan Sumatera Selatan, Hadiprakasa & Kinnaid (2004) menemukan; 4 spesies Rangkong yang berbeda memakan setidaknya 64 jenis buah dimana 15 diantaranya adalah Ficus. Uniknya, secara khusus Rangkong Gading hanya memakan 12 jenis buah dari Ficus ditambah sisanya memangsa hewan-hewan. Termasuk dalam daftar konsumsinya tersebut meliputi; Ficus albipila, Ficus crassiramea, Ficus drupacea, Ficus microcarpa, Ficus stupenda, Ficus sundaica and Ficus benjamina.
Perilaku Rangkong gading yang sangat menyukai buah dari kelompok Ficus Pencekik yang berukuran besar (Ficus dubia, Ficus stupenda, Ficus cucurbitina, Ficus sundaica, dll) serta kecenderung mengabaikan buah ara dari jenis liana atau beringin kecil, menunjukkan betapa bergantungnya mereka pada spesies-spesies raksasa di kanopi hutan.



Wilayah Luas untuk Sepasang Kekasih
Rangkong Gading hidup berpasangan (monogami) dan sangat teritorial. Untuk bisa bertahan hidup dan berkembang biak, sepasang Rangkong membutuhkan wilayah hutan yang sangat luas—mencapai 770 hektar.
Mengapa begitu luas? Karena mereka membutuhkan kepadatan pohon Ficus pencekik yang tinggi. Di hutan primer, diperkirakan dibutuhkan sekitar 1.500 hingga 2.300 pohon Ficus pencekik untuk mendukung kehidupan satu pasang Rangkong Gading.



Jaring Kehidupan yang Rapuh
Inilah bagian yang paling krusial: Rangkong Gading adalah penyebar biji utama bagi pohon Ficus. Pohon Ficus sendiri memiliki umur yang relatif pendek (sekitar 25 tahun) dan sering tumbang bersama pohon inangnya. Agar populasi Ficus tetap lestari, mereka butuh “hujan biji” terus-menerus yang dibawa oleh Rangkong Gading.
Apa yang terjadi jika Rangkong Gading punah karena diburu?
- Populasi burung penyebar biji hilang.
- Rekruitmen (tumbuhnya bibit baru) pohon Ficus terhenti.
- Populasi pohon Ficus menurun drastis.
- Ekosistem hutan runtuh karena kehilangan spesies kunci.
Di beberapa wilayah seperti Bukit Lambir (Sarawak), hilangnya mamalia dan burung besar akibat perburuan telah menyebabkan penurunan populasi pohon Ficus secara nyata. Bahkan jika perburuan dihentikan sekarang, kepadatan Ficus mungkin sudah terlalu rendah bagi Rangkong Gading untuk bisa bertahan hidup jika diperkenalkan kembali.
Karenanya Menyelamatkan Rangkong Gading bukan hanya tentang menyelamatkan satu jenis burung, melainkan menyelamatkan seluruh sistem “rantai makanan” hutan hujan kita. Tanpa Rangkong Gading, pohon Ficus akan sirna; dan tanpa Ficus, hutan Kalimantan akan kehilangan suaranya.
Sumber : disarikan dari borneoficus ‘fig ecology helmeted hornbill‘. Foto : GBIF & dari berbagai sumber