- Nama Ilmiah: Ficus septica Burm.
- Nama Lokal: Awar-awar, jilabuak, sikalabuak
- Ciri Spesifik: Daun lebar mengkilap dengan getah kuning yang sering digunakan dalam pengobatan tradisional.
Spesies ini memiliki ciri khas pada getah dan daunnya yang lebar mengkilap. Berbeda dengan jenis beringin besar, Ficus septica lebih sering ditemukan dalam fase semai atau perdu di lantai hutan serta sepanjang daerah aliran sungai.
Nama septica berasal dari bahasa Yunani yang berarti “septik” atau “busuk”, merujuk pada sifat antibakteri getahnya yang secara tradisional digunakan untuk mengobati infeksi kulit. Ficus septica juga sering disebut juga White-veined Fig (Ara Vena Putih) karena urat daunnya yang berwarna putih mencolok di permukaan atas.
Sang Spesialis Guttasi
Ficus septica bukan sekadar tanaman obat, tetapi juga memiliki mekanisme biologis yang unik untuk bertahan hidup di lingkungan lembap. Pada malam hari atau pagi buta, daunnya sering mengeluarkan tetesan air melalui kelenjar khusus yang disebut hidatoda (bintik-bintik putih pada daun). Proses ini disebut guttasi, yaitu cara tanaman membuang kelebihan air dan garam terlarut.
Morfologi
- Habitus: Perdu besar hingga pohon kecil yang dapat tumbuh hingga 25 meter di habitat aslinya. Sering ditemukan di pinggir jalan dan lahan atau bangunan terlantar serta lahan dengan tanah buruk.
- Akar berupa sistem perakaran yang umum pada genus Ficus untuk memperkuat struktur pohon.
- Daun daun tunggal bertangkai, berukuran besar (hingga 15 x30 cm) yang tersusunan secara spiral (berseling atau berhadapan). Helaian daun berbentuk oval atau bulat telur. Pertulangan daun menyirip, tepi daun rata, warna daun dari atas hijau tua mengkilat dan licin (laevis).. Ujung daun sangat runcing (acutus), pangkal daun membulat (rotundatus). Urat daun putihnya berfungsi seperti “markah jalan” bagi kelelawar di malam hari untuk menemukan buah yang matang.
- Batang & Ranting: Batang berkayu yang mengeluarkan getah jika dilukai. Ranting mudanya berongga dan memiliki kelenjar pada buku-bukunya yang sering menarik perhatian semut hitam.
- Bunga/Buah/Ara: Berbentuk bulat atau agak pipih. Buah (Ara)/Berusuk (ridged) ini muncul dari ketiak daun di sepanjang dahan (ramiflorous). Buah matang secara bertahap satu per satu dari hijau menjadi kuning kehijauan untuk memastikan satwa penyebar seperti musang dan kelelawar kembali setiap malam.
Daur Hidup
- Fase Pertumbuhan: Ditemukan dominan dalam fase semai di habitat alaminya.
- Strategi Penyerbukan: Spesies ini bersifat dioecious (berumah dua), artinya ada pohon jantan dan pohon betina yang terpisah.
- Pohon Jantan: Menghasilkan tawon penyerbuk, namun buahnya tidak dimakan oleh satwa dan biasanya membusuk di pohon.
- Pohon Betina: Menghasilkan biji dan buahnya matang secara bertahap untuk menarik satwa penyebar biji sebelum dimakan oleh pemangsa biji.
Jaring Kehidupan
- Simbiosis Tawon: Memiliki hubungan simbiosis mutualisme yang sangat bergantung pada tawon penyerbuk spesifik (famili Agaonidae) yang hidup di dalam rongga buahnya.
- Penyebar Biji: Di lingkungan alami atau di hutan, misalnya Kalimantan, bijinya disebarkan oleh kelelawar buah (seperti Cynopterus) dan musang bulan. Kelelawar sering menjatuhkan biji saat terbang, yang menjelaskan mengapa awar-awar sering tumbuh di lahan kosong perkotaan.
- Lingkungan: Tumbuh baik di dataran rendah dengan suhu 28-30°C dan kelembapan 63-64%.
- Hubungan Makanan: Karena mampu berbuah sepanjang tahun, awar-awar menjadi pohon penyokong utama ketersediaan pakan bagi satwa hutan.+1
- Lingkungan Abiotik: Berperan sebagai penjaga tata air dan penyangga tanah di kawasan lindung atau sumber air. Ficus septica sangat toleran terhadap berbagai jenis tanah, termasuk tanah kapur dan tanah ultramafik (tanah dengan kandungan mineral logam tinggi).
Potensi
- Potensi Ekonomi: Dikembangkan sebagai tanaman obat dan terkadang sebagai tanaman hias.
- Potensi Herbal (Tradisional: Akar, daun, dan buah digunakan untuk mengobati penyakit gula, sakit kepala, bisul, kanker (tumor), sesak nafas, hingga penawar racun ikan.
- Akar: Digunakan sebagai penawar racun ikan, obat asma, dan jika dicampur adas pulowaras dapat mengobati keracunan gadung atau kepiting. Aktivitas Antibakteri: Seluruh bagian akar memiliki aktivitas melawan bakteri penyebab disentri dan kolera.
- Daun: Digunakan untuk mengobati sakit kepala, penyakit kulit, wasir, ginjal, tekanan darah tinggi, maag, hingga bisul.
- Buah: Dapat dimanfaatkan sebagai pencahar dan penambah nafsu makan.
- Potensi Herbal (Tradisional: Akar, daun, dan buah digunakan untuk mengobati penyakit gula, sakit kepala, bisul, kanker (tumor), sesak nafas, hingga penawar racun ikan.
- Potensi Ekologi
- Sebagai spesies kunci (keystone species) yang menjaga kelestarian hutan melalui regenerasi alaminya yang cepat. Berperan sebagai penjaga tata air di kawasan hutan serta daerah aliran sungai.
- Tanaman pionir: Sebagai tanaman pionir yang mampu tumbuh di area perkotaan yang padat maupun di pusat hutan hingga ketinggian 1.500 mdpl.
- Indikator lingkungan : tanaman ini memiliki nilai sosial sebagai indikator kesehatan lingkungan di area pemukiman karena kemampuannya menyaring udara dan air.
Gambar



































Sumber : Plantnet, Global Biodiversity Information Facility (GBIF) & Dari berbagai sumber