Jarak Tintir / Daun Yodium (Jatropha multifida L)

Tanaman Jarak Tintir (Jatropha multifida L) juga dikenal sebagai tanaman yodium. Ada juga yang menamai tanaman ini dengan sebutan Ri Balsem, karena kegunaanya yang dikenal untuk membalsem luka. Tanaman ini ditengarai berasal dari Karibia, Trinidad, Kuba, selatan Amerika Utara, Meksiko. Tanaman Jarak Thintir ini diperkenalkan sebagai tanaman hias ke daerah tropis sejak lama dan sering ditanam sebagai pagar tanaman. Berdasarkan pengalaman secara turun temurun banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk menyembukan luka baru, sehinggga dikenal dengan tanaman yodium atau betadine. Batang tanaman betadine telah diteliti dalam menyembuhkan luka dan mempunyai kesetaraan efektif dengan povidone iodine 10%. Batang tanaman betadin juga diteliti mampu mengkoagulasi darah. Ekstrak etanol batang tanaman betadine dapat menghambat pertumbuhan Salmonella typhi.

Tanaman yang juga disebut sebagai daun pinisilin, Jarak Dokter atau Jarak Cina termasuk dalam spesies tumbuhan dari keluarga Euphorbiaceae. Dalam bahasa Inggris, tumbuhan ini dikenal dengan nama Coralbush. Meskipun dikenal sebagai obat luka atau tanaman hias beberapa anggota genus Jatropha lainnya juga mengandung racun.

Getah tumbuhan ini dipakai sebagai obat luka. Tumbuhan ini cukup beracun dan konsumsi tumbuhan ini menyebabkan gangguan pencernaan.

Tanaman daun betadin merupakan tanaman daerah semi-kering di dataran rendah tropis, meskipun dapat tumbuh di daerah lembap selama ada drainase yang sangat baik. Lebih suka posisi di bawah sinar matahari penuh, tetapi juga berhasil dalam naungan parsial. Dapat tumbuh di sebagian besar tanah yang berdrainase baik. Tanaman yang sudah mapan agak toleran terhadap kekeringan dan toleran terhadap paparan maritim/laut.

Morfologi

  • Akar memiliki sistem perakaran tunggang, berbonggol.
  • Batang berkayu (lignosus) dengan pangkal batang membesar. Bentuk batang bulat (teres) permukaan berbulu, bergetah memperlihatkan bekas-bekas menempelnya daun. Ketika masih muda batang berwarna hijau dan setelah tua menjadi putih kehijauan. Arah tumbuh batang adalah tegak lurus (erectus). Sistem percabangan simpodial (percabangannya dekat permukaan tanah), arah tumbuh cabang condong ke atas (patens).
  • Daun tunggal yang tersebar. Panjang 5-15 cm, lebar 6-16 cm. Bagian terlebar terdapat di tengah-tengah helaian daun, dari bagian terlebar tersebut bangun daun (circumscriptio) tanaman Jatropha multifida L. termasuk daun berbentuk bulat (orbicularis). Ujung daun (apex folii) meruncing (acuminatus), pangkal daun (basis folii) berlekuk (emarginatus), permukaan atas dan bawah daun Jatropha multifida L. adalah suram (opacus), pertulangan daun menjari (palminervis), tepi daun (margo folii) bertoreh (divisus) dengan tepi daun berbagi (partitus), yang mana dalamnya toreh melebihi setengah panjangnya tulang-tulang daun di kanan kirinya. Letak toreh ini bergantung dengan susunan tulang daunnya. Sehingga, sebutan tepi daun yang bertoreh merupakan kombinasi antara sifat torehnya dengan susunan tulang daun (daun berbagi menjari (palmatipartitus). Tata letak daun tersebar ( folia sparsa). 
  • Bunga majemuk (inflorescentia racemosa), tempat tumbuh bunga di ujung batang (flos terminalis). Inflorescentia racemosa ibu tangkai becabang-cabang dan cabangnya dapat bercabang lagi sehingga bunga-bunga tidak terdapat pada ibu tangkainya, bertipe malai (panicula), Warna ibu tangkai bunga berwarna hijau dan jika tua berwarna cokelat. Bunga berwarna merah dan termasuk ke dalam bunga yang berkelamin dua (hermaproditus), yaitu bunga yang mempunyai benang sari (alat kelamin jantan) dan putik (alat kelamin betina). Benang sari (stamen) berjumlah delapan dan kepala sari berbentuk tapal kuda, warna benang sarinya sendiri berwarna kuning. Putik (pistillum) pada bunga Jatropha multifida L. memiliki tiga daun buah yang saling berlekatan. Mahkota bunga (corolla) terdapat 5 petala yang yang tidak berlekatan (polypetalus). Sementara itu, kelopak bunga (calyx) terdapat 5 sepala yang saling berlekatan (gamosepalus) dengan calyx berwarna merah sama dengan warna corolla, dan berdasarkan banyak sedikitnya bagian yang berlekatan (panjang pendeknya pancung-pancung di bagian atas kelopak), kelopak bunga bercangap (fissus), hal ini karena bagian yang berlekatan kira-kira meliputi separuh panjangnya kelopak, jadi pancung-pancungnya kira-kira juga separuhnya). Bunga bersimetri actinomorphus, karena dapat dibuat banyak bidang simetri untuk membagi bunga itu dalam dua bagiannya yang setangkup.
  • Buah (fructus) yang berbentuk bulat telur atau elips dengan panjang ± 2,5 cm dan diameter 2-4 cm yangmana buah yang masih muda berwarna hijau dan apabila sudah tua berwarna cokelat. Terbagi menjadi tiga ruang yang masing-masing ruang berisi satu biji, termasuk ke dalam buah sejati tunggal kering jenis buah berkendaga tiga (tricoccus).
  • Biji (semen) berbentuk lonjong dengan panjang ± 2 cm dengan ketebalan sekitar 1 cm.

Kandungan Penting

Senyawa alkaloid, tanin, glikosida, saponin, flavonoid, fenol, flavon apigenin, acacetin, luteolin, asam fenolik seperti vanilat, siring, asam p-OH-benzoat, melilotic, cis- dan trans-ferulat; p-kumarat dan asam klorida, tanin, proantosianidin, dan glycoflavon.

Khasiat

Digunakan sebagai pencahar dan emetik, mengobati gangguan pencernaan dan kolik, sebagai tonik, orkitis (peradangan testis), obat edema, kudis, luka dan bisul, emeto-katarsis, pengobatan sariawan, demam, cacingan dan kencing nanah, infeksi kulit, menghentikan pendarahan luar, abortifacient, pengobatan nyeri, infeksi, kondisi peradangan, tumor.

Luka berdarah

  • Ambil setangkai daun betadine ukuran sedang, tidak terlalu tua atau muda.
  • Tunggu ujung tangkai daun mengeluarkan getah yang berwarna kekuningan, kemudian tempelkan pada bagian yang terluka.
  • Tunggu beberapa menit hingga getahnya mengering.
  • Ulangi kegiatan tersebut dua sampai tiga kali sehari.

Demam

  • Ambil daun dan buah betadine secukupnya lalu cuci hingga bersih.
  • Rebus dengan air sampai mendidih.
  • Gunakan air rebusan untuk mandi.

Gambar