Melinjo (G gnemon : Gymnospermae) merupakan tanaman berbiji terbuka yang berasal dari Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Daerah tumbuh tanaman ini, dapat tumbuh pada daerah 0-1200 m dpl.
Menurut National Tropical Botanical Garden (NTBG),melinjo (Gnetum gnemon L.) termasuk pohon berdaun hijau yang dapat tumbuh mencapai 8-15 meter. Gnetum gnemon merupakan tanaman asli di Asia Tenggara dan kepulauan Pasifik Barat termasuk Fiji, Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, dan Vanuatu.Pohon itu tumbuh di hutan hujan dataran rendah pada ketinggian di bawah 1.700 m. Gnetum gnemon banyak dibudidayakan di pekarangan dan kebun dan kebanyakan dimanfaatkan sebagai olahan makanan.Gnetum gnemonmerupakan tumbuhan berbiji terbuka, berbentuk pohon berumah dua (dioecious). Bijinya tidak terbungkus daging tetapi terbungkus kulit luar (Budiyanto, 2014).
Akibat banyaknya alih fungi hutan saat ini menyebabkan pergeseran pula pada sumber plasma nutfah yang ada serta kebutuhan swasembada pangan untuk itu diperlukan benih yang unggul dalam pengusahaan tanaman tidak terkecuali dengan tanaman melinjo yang produk olahannya sangat menjanjikan.
Morfologi
Klasifikasi Pohon Melinjo :
- Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
- Superdivisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
- Divisi : Gnetophyta
- Kelas : Gnetopsida
- Ordo : Gnetales
- Famili : Gnetaceae
- Genus : Gnetum L.
- Spesies : Gnetum gnemon L.
Melinjo (Gnetum gnemon L.) termasuk tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae), dengan tanda-tanda : bijinya tidak terbungkus daging tetapi hanya terbungkus kulit luar. Berdasarkan bentuk tajuk pohonnya dikenal ada beberapa jenis tanaman melinjo, yakni bertajuk kerucut, bertajuk piramida, oval dan selinder. Apabila tidak dipangkas, maka tanaman melinjo yang berumur tua bisa mencapai ketinggian lebih dari 25 m dari permukaan tanah.
Potensi Sosial Ekonomi
Tanaman melinjo (Gnetum gnemon) mempunyai banyak manfaat bagi manusia mulai dari batang, daun, bunga dan buah mempunyai arti ekonomi. Daun, bunga dan kulit buah yang tua dapat dijadikan sayuran, sedangkan biji yang tua dapat dijadikan emping yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, kulit batang dapat dijadikan tali sedangkan kayu untuk bahan pembuat kertas.
Selain itu tanaman melinjo juga mengandung berbagai macam senyawa metabolit sekunder, yang dapat berfungsi sebagai bahan obat tradisional. Senyawa metabolit sekunder tersebut diantaranya alkaloid, flavonoid, saponin ( Lestari dan Muharfiza, 2015; Mukhlisah, 2014). (Mulawarman, Roshetko, Sasongko, & Iriantono, 2002) Salah satu fungsi melinjo untuk obat herbal menurut (Taroreh., et al, 2016) yaitu untuk serangan Karies pada gigi manusia yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans, ekstrak daun melinjo dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada zona hambat sebesar 10,6 mm.
Kadar Purin
Melinjo mengandung purin. Peningkatan asam urat terjadi karena gangguan metabolisme purin dan asupan purin tinggi dari makanan secara berlebihan. Hiperurisemia terjadi karena gangguan pengeluaran asam urat oleh ginjal.Hiperurisemia memang dapat dipicu karene mengkonsumsi makanan tinggi purin. Namun, apabila tidak dikonsumsi secara berlebihan dan cara pengolahannya benar tidak akan menyebabkan asam urat
Konsumsi berlebihan dan minyak goreng yang digunakan untuk menggoreng emping hasil olahan melinjo tersebut yang menyebabkan kadar asam uratnya meningkat. Jadi, bukan melinjo itu sendiri yang menyebabkan asam urat, karena apabila disiapkan dalam bentuk makanan lain tanpa minyak dan tidak dikonsumsi secara berlebihan tidak akan menyebabkan peningkatan asam urat.
Potensi Peneduh Jalan
Pohon Mlinjo sangat layak untuk dijadikan pohon peneduh jalan di kawasan tropis seperti Indonesia, terutama jika ingin menggabungkan fungsi ekologi dan ekonomi. Meski belum banyak digunakan dalam program penghijauan kota, potensi serapan karbonnya cukup menjanjikan bila ditanam dalam jumlah besar dan dirawat dengan baik.
Sebagai Peneduh Jalan, Melinjo sebagai peneduh jalan mempunyai keunggulan :
- Tajuk rimbun dan vertikal: Mlinjo memiliki daun lebat dan bentuk tajuk yang cukup kompak, cocok untuk memberikan keteduhan tanpa mengganggu ruang lalu lintas atau kabel udara.
- Toleran terhadap kekeringan dan tanah miskin: Cocok untuk area pinggir jalan yang sering terpapar panas dan memiliki tanah yang kurang subur.
- Pertumbuhan sedang: Tidak terlalu cepat tumbuh, sehingga mudah dikendalikan dan tidak cepat merusak infrastruktur sekitar.
- Nilai estetika dan ekonomi: Buah mlinjo digunakan dalam kuliner lokal (emping), memberi nilai tambah bagi masyarakat sekitar.
- Akar tidak terlalu invasif: Mengurangi risiko kerusakan trotoar atau saluran air.
- Daun lebar dan hijau sepanjang tahun → mendukung fotosintesis dan serapan karbon.
- Melinjo sebagai Gymnospermae tropis → jarang ditemukan dalam program penghijauan kota, memberi nilai edukatif dan konservasi.
- Buah bernilai ekonomi dan budaya → memperkuat koneksi antara ekologi dan masyarakat lokal.
Namun sebagai pertimbanagan, Pohon melinjo sebagai peneduh jalan perlu pemangkasan rutin, agar tidak terlalu rimbun dan tetap aman bagi pengguna jalan.
Potensi Karbon
- Pohon dengan biomasa sedang seperti Mlinjo diperkirakan mampu menyerap sekitar 10–20 kg CO₂ per tahun per pohon dewasa, tergantung pada diameter batang dan luas tajuk.
- Serapan karbon meningkat seiring pertumbuhan diameter dan tinggi pohon, serta kepadatan daun yang mendukung fotosintesis.
Faktor pendukung serapan karbon
- Daun hijau lebat: Meningkatkan luas permukaan fotosintesis.
- Adaptif terhadap lingkungan tropis: Mampu berfotosintesis optimal sepanjang tahun.
- Dapat ditanam dalam barisan: Jika ditanam secara berderet di sepanjang jalan, potensi serapan karbon kolektifnya cukup signifikan.
Gambar













