Pulai atau Pule (Alstonia scholaris L.) termasuk dalam genus Alstonia yang juga dari famili Apocynaceae. Genus ini Altonia sendiri terdiri dari sekitar 40 lebih spesies yang salah satunya adalah Pohon Pulai (Alstonia scholaris L.). Tanaman ini ditengarai berasal dari China Selatan, Asia tropis dan sub Benua India (India, Nepal, Sri Lanka, Pakistan, Bangladesh), Australia (Queensland). Kemudian menyebar sampai ke Indonesia, meliputi hampir di seluruh wilayah. Nama botani Alstonia merupakan penghormatan kepada Charles Alston, seorang profesor botani di Universitas Edinburgh. Sedangkan nama scholaris diberikan karena pohon ini dimanfaatkan sebagai bahan dasar papan tulis sekolah.
Dalam bahasa Inggris, Pohon Pule dikenal juga sebagai Devil’s tree atau Blackboard tree. Termasuk pohon evergreen (daunnya selalu hijau), pertumbuhannya relatif cepat dengan tinggi dapat mencapai 40 meter lebih, berbatang lurus, dan daun tersusun melingkar (whorled). Pohon Pule memiliki ciri khas menghasilkan getah putih (latex) yang pahit seperti halnya suku Apocynaceae lainnya. Getah putih yang pahit ini sering digunakan dalam pengobatan tradisional. Bunganya kecil, putih kehijauan, harum, dan menjadi sumber pakan serangga penyerbuk.
Dikenal juga dengan nama lokal Pule, Pule Kemuning, Pulai Gading, Kayu gabus, Lame, Lamo, Jelutung, Tewer (Aceh), Lame (Sunda), Polay (Madura), Hanjalatung (Kalimantan), Kita (Minahasa), Rite (Ambon), Aliag (Papua) dan Hange (Ternate). Kualitas kayunya tidak terlalu keras dan kurang disukai untuk bahan bangunan karena kayunya mudah melengkung jika lembap, tetapi banyak digunakan untuk membuat perkakas rumah tangga dari kayu dan ukiran serta patung.
Pohon ini banyak digunakan untuk penghijauan karena daunnya hijau mengkilat, rimbun dan melebar ke samping sehingga memberikan kesejukan. Di Bali, Pohon Pule dianggap keramat sehingga dibiarkan tumbuh hingga mencapai diameter 200 cm. Selain sebagai pohon perindangpohon ini juga digunakan sebagai pengobatan tradisional/herbal. Kulitnya digunakan untuk bahan baku obat. berkhasiat untuk mengobati penyakit radang tenggorokan dan lain-lain.
Pohon ini dapat tumbuh optimal pada ketinggian 1-1.230 m dpl, curah hujan tahunan 1.000-3.800 mm/th, dan tidak tergenang air. Untuk pembudidayaanya, pohon Pule dapat diperbanyak dengan cara generatif yakni dengan biji juga dengan cara vegetatif melalui stek batang atau pucuk.
Taksonomi
- Kingdom : Plantae
- Divisi : Magnoliophyta (Angiospermae – tumbuhan berbunga)
- Kelas : Magnoliopsida (Dikotil)
- Ordo : Gentianales
- Famili : Apocynaceae
- Genus : Alstonia
- Spesies : Alstonia scholaris (L.) R.Br., Sinonim : Alstonia kurzii Hook.f., Alstonia spectabilis Kurz, Echites pala Buch.-Ham. ex Spreng.
Morfologi
- Akar tunggang, memiliki lentisel berpori pada bagian permukaan akarnya.
- Batang kulit berwarna cokelat terang dan terdapat getah berwarna putih susu pada bagian dalam kulit kayu.
- Daun bulat telur seperti spatula, ujung daun meruncing, hijau mengkilap dengan bagian bawah daun berwarna lebih pucat.
- Bunga biseksual, majemuk, mengelompok pada pucuk daun, kelopak bulat telur, putih kekuningan.
- Buah berbentuk pita, berwarna putih, panjang 20-50 mm.
- Biji oblong, berbulu, berukuran kecil, putih dengan panjang 1,5-2 cm.
Kandungan Penting
- Bagian tanaman yang digunakan sebagai Herbal : Kulit batang (bagian paling penting), Daun, Getah putih (latex), Akar dan Bunga (jarang, tetapi digunakan untuk aromaterapi tradisional).
- Pohon Pule kaya akan alkaloid ( echitenine, ditamine, ditaine, alstonine, reserpine, tetrahydroalstonine, alstonidine, yohimbine) dan senyawa bioaktif lainnya.
- Senyawa penting lain ; flavonoid, saponin, terpenoid, fenolik, glikosida, asam organik, iridoid, tanin, dan fenol. Kulit batangnya mengandung alkaloid (echitenine, ditamine, ditaine, alstonine, reserpine, tetrahydroalstonine, alstonidine, yohimbine).
Manfaat
- Secara tradisional Pule digunakan untuk mengobati gangguan pernapasan (radang tenggorokan), cacingan (pengobatan tradisional India), penurun demam, malaria, borok bernanah, memperlancar/pembersihan nifas (darah ibu melahirkan), sipilis, kencing batu, toksoplasmosis, afrodisiak, antidiare, antikanker, dan antioksidan.
- Pulai adalah salah satu antimalaria tradisional paling terkenal di India, Sri Lanka, Myanmar, dan Nusantara. Alkaloid echitamine dan alstonine menunjukkan aktivitas melawan Plasmodium falciparum dan Plasmodium berghei. Air rebusan kulit batang digunakan dalam pengobatan tradisional untuk malaria dan demam berulang.
- Rebusan kulit batang dan daun digunakan untuk: demam, flu. panas dalamdan infeksi viral ringan
- Kulit batangnya juga digunakan dalam pengobatan tradisional untuk: diare, disentri, sakit perut akibat infeksi bakteri dan gangguan usus besar.
- Ekstrak Pule mempunyai potensi untuk obat luka, antiseptik dan pengobatan infeksi kulit.
- Kulit batang dan daunnya dimanfaatkan sebagai baluran dan balsem tradisional guna membantu meredakan radang sendi, nyeri otot, bengkak dan peradangan kulit.
- Dalam Ayurveda, Pule termasuk dalam kelompok “rasayana” (tonik restoratif) yang digunakan untuk meningkatkan stamina, membantu pemulihan setelah sakit dan memperkuat sistem imun.
- Daun dan bunga dimanfaatkan untuk meredakan batuk berdahak, bronkitis ringan, asma tradisional, nyeri tenggorokan dan mengencerkan dahak.
- Potensi mengobatan radang hati : Penelitian menunjukkan ekstrak kulit batang memiliki potensi mengurangi kerusakan liver, melindungi dari toksin dan menurunkan peradangan hati
- Potensi antikanker : Kandungan Alkaloid indol tertentu (alstonine, echitamine) pada Pule menunjukkan aktivitas antiproliferatif yang dapat penghambatan sel kanker.
- Potensi antidiabetes : Beberapa studi preklinis menunjukkan ekstrak daun dan kulit pule dapat menurunkan gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin. Namun hal ini masih memerlukan studi klinis lebih lanjut.
| Bagian | Cara Pengolahan | Kegunaan |
|---|---|---|
| Kulit batang | direbus atau dibuat serbuk | malaria, demam, diare |
| Daun | direbus, ditumbuk | batuk, luka, radang |
| Latex (getah putih) | oles luar | luka, bisul, antijamur |
| Bunga | infus teh | relaksasi, batuk ringan |
| Akar | rebusan | tonik, antipiretik |
Demam
- Siapkan 3 g kulit batang pulai, 1 gelas air.
- Cuci lalu rebus pulai selama 15 menit menggunakan api kecil, dinginkan dan saring.
- Minum dan beri 1 sendok makan madu atau sesuai selera.
Afrosidiak (Obat kuat laki-Laki)
Masyarakat Sunda di kaki Gunung Halimun menggunakan bagian dalam kulit kayu pulai sebagai afrodisiak. Penggunaannya ada yang tunggal dan dicampur dengan bahan lain seperti daun tabat barito dan umbi tangkur gunung.
- 5-10 g bagian dalam kulit kayu, 2-3 gelas air.
- Rebus hingga mendidih.
- Minum 1-3 kali sehari, masing-masing 1 gelas.
Pengawetan
- Pilih batang yang cukup tua lalu potong-potong sepanjang 10 cm. Cuci bahan dan tiriskan.
- Kerat membujur di dua tempat yang saling berhadapan. Kulit-kulit dilepaskan dari bagian kayunya.
- Dikeringkan di bawah naungan matahari selama beberapa hari. Simpan dalam wadah bersih.
Gambar























Sumber : Plantnet, Global Biodiversity Information Facility (GBIF) & Dari berbagai sumber