Tanaman Akasia (Acacia sp.) tergolong ke dalam genus Acacia. Genus Acacia termasuk famili Mimosaceae. Genus ini terdiri dari kurang lebih 1200 spesies berupa pohon dan perdu, 700 diantaranya asli Australia. Selain sebagai tanaman pelindung, daun tanaman dari genus Acacia ini dapat dipakai sebagai makanan ternak, polongnya dimakan orang di Amerika selatan, sementara di Australia ada yang mengkonsumsi bijinya.
Spesies dari genus Acacia yakni Acacia mangium dan Acacia auriculiformis potensial digunakan sebagai tanaman penghij auan hutan di beberapa negara. Sementara Acasia auriculiformis ditanam secara luas di daerah tropis (termasuk Indonesia) sebagai tanaman ornamental.Dorman sampai 30 tahun
Akasia dapat tumbuh di hampir semua jenis tanah, termasuk tanah alkalin dan tergolong tanaman yang toleran (dengan klasifi kasi moderat) terhadap garam. Beberapa spesies pertumbuhannya sangat cepat, namun berumur pendek, yakni sekitar sepuluh sampai lima belas tahun. Umumnya Akasia mempunyai bij i yang keras dan dapat bertahan hidup (viable) sampai 30 tahun . Biji-biji ini memerlukan perlakuan panas (api) atau perendaman untuk pemecahan dormansinya.mencapai 9 meterTanaman pelindung dari genus Acasia yang sering kita jumpai di Indonesia adalah Acacia auriculiformis (dalam bahasa Inggris dikenal dengan ‘Ear pod watt le’) yang merupakan tanaman asli Australia bagian utara dan New Guinea. Tanaman ini memiliki kanopi yang lebar dan dapat mencapai ketinggian 9 meter atau lebih. Spesies Acasia auriculiformis dikenal toleran terhadap kekeringan. Tidak ada hama atau penyakit mengkhawatirkan yang menyerang spesies ini, namun kecuali penyakit Anthraknosa yang dapat menginfeksi.
Tanaman dewasa Acasia auriculiformis memiliki daun berbentuk bulan sabit, yang sebenarnya merupakan modifikasi dari tangkai daun. Tanaman muda (bibit) memiliki bentuk daun majemuk menyirip. Seiring bertambahnya usia tanaman, helai anak-anak daun gugur dan ibu tangkai daunnya berubah pipih menyerupai bulan sabit, yang disebut phylodium. Phylodium berfungsi untuk berfotosintesis. Tanaman ini memiliki bunga majemuk bentuk bulir (spica) panjangnya sekitar 8 cm. Bunganya berwarna kuning keemasan, menghasilkan sangat banyak tepungsari. Buahnya adalah buah polong, berbentuk pipih dan terpuntir.
Contoh spesies lainnya dari genus Acasia adalah Acasia podalyriifolia, Acasia juniperina, Acasia armata dan Acasia farnesiana. Sedangkan Acacia auriculiformis sudah dikenal luas di Indonesia sebagai pohon cepat tumbuh yang sering digunakan untuk penghijauan, peneduh jalan, dan reklamasi lahan. Genus Acacia mencakup lebih dari 1.300 spesies, dengan persebaran utama di Australia, Afrika, dan Asia Tenggara. Spesies non-Australia cenderung memiliki duri, sedangkan spesies Australia umumnya tidak. Dalam konteks kampanye kehutanan atau edukasi lokal, akasia bisa divisualisasikan sebagai pohon dengan daun majemuk menyirip, kulit batang coklat keabu-abuan, dan polong pipih yang mengandung biji berwarna coklat tua.
Taksonomi
Taksonomi pohon akasia (khususnya Acacia auriculiformis) adalah sebagai berikut:
- Kingdom: Plantae
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Magnoliopsida
- Ordo: Fabales
- Famili: Fabaceae (dulu Mimosaceae)
- Subfamili: Mimosoideae
- Genus: Acacia
- Spesies: Acacia auriculiformis A. Cunn. ex Benth.
Morfologi
- Akar tunggang yang kuat dan dalam, memungkinkan akasia bertahan di lahan kering. Akar lateral menyebar luas, membantu penyerapan air dan nutrisi.
- Batang Tegak, berkayu keras, dan berwarna cokelat keabu-abuan. Beberapa spesies memiliki duri pada batang, terutama yang bukan berasal dari Australia. Kulit batang bisa kasar atau halus tergantung spesies dan umur pohon.
- Daun umumnya berupa daun majemuk menyirip ganda (bipinnate), tetapi beberapa spesies seperti Acacia mangium memiliki phyllodia (daun semu berbentuk pipih), warna daun hijau muda hingga hijau tua, tergantung umur dan kondisi lingkungan.
- Bunga kecil, berwarna kuning cerah atau putih, tersusun dalam bentuk bulir (spike) atau kepala (globular), menghasilkan aroma khas dan menarik serangga penyerbuk.
- Buah berupa polong pipih memanjang, berwarna cokelat saat matang, Mengandung beberapa biji kecil berwarna cokelat kehitaman.
Potensi ekologi
- Sebagai peneduh jalan, penahan api, dan penyejuk.
- Tahan Kekeringan: Akasia memiliki sistem akar dalam dan kemampuan menyimpan air, sehingga sangat cocok untuk lahan kering dan marginal.
- Rehabilitasi Lahan: Mampu tumbuh di tanah miskin hara, menjadikannya ideal untuk reklamasi tambang, reboisasi, dan penghijauan lahan kritis.
- Habitat Satwa Liar: Tajuk dan struktur pohonnya menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan bagi berbagai fauna.
- Mikroba Simbiotik: Akasia bersimbiosis dengan mikoriza dan bakteri pengikat nitrogen, membantu memperbaiki kesuburan tanah.
- Keanekaragaman Genetik: Beberapa kawasan konservasi menunjukkan variasi genetik akasia yang dapat mendukung ketahanan ekosistem
- Daun akasia dapat dipergunakan sebagai pakan ternak. Daun akasia mengandung protein kasar, serat, dan mineral yang bermanfaat bagi ternak ruminansia seperti sapi dan kambing. Namun, kandungan tanin yang tinggi dapat menghambat pencernaan protein jika tidak diolah dengan benar. Pengolahan yang Disarankan melalui Fermentasi yang dapat meningkatkan kecernaan dan mengurangi efek negatif tanin.
Potensi peneduh Jalan
- Pertumbuhan Cepat: Akasia termasuk pohon cepat tumbuh (fast-growing), bisa memberikan keteduhan dalam waktu 2–3 tahun.
- Tajuk Rindang dan Estetis: Bentuk tajuk menyebar dan dedaunan lebat membuatnya ideal untuk menciptakan suasana sejuk dan nyaman di jalan raya.
- Toleran Polusi: Akasia mampu menyerap polutan udara dan menyaring debu, cocok untuk lingkungan perkotaan.
- Perawatan Rendah: Tidak memerlukan pemangkasan intensif dan tahan terhadap gangguan hama ringan.
Potensi Karbon
Potensi serapan karbon pohon akasia per tahun berkisar antara 20 hingga 35 kg CO₂ per pohon, tergantung spesies, umur, dan kondisi tumbuh. Spesies seperti Acacia mangium (usia 1-5 tahun ; 20–30 kg CO₂/tahun) menunjukkan serapan yang lebih tinggi pada usia produktif daripada spesies Acacia auriculiformis (1-5 tahun ; 15–25 kg CO₂/tahun)

- Rehabilitasi Lahan: Akasia sangat cocok untuk reklamasi tambang dan lahan kritis karena serapan karbonnya tinggi dan pertumbuhannya cepat.
- Kampanye Netral Karbon: Cocok untuk program penanaman pohon berbasis offset karbon.
- Perencanaan Lanskap Kota: Serapan karbon per pohon dapat digunakan untuk menghitung kontribusi ruang hijau terhadap pengurangan emisi.
Gambar
Acasia auriculiformis
Merupakan jenis akasia yang banyak ditaman di Indonesia termasuk sebagai peneduh jalan.














Acacia mangium
Merupakan jenis akasia yang juga dikenal sebagai tongke hutan, Jenis akasia ini banyak tumbuh di wilayah Papua Nugini, Papua Barat dan Maluku. Di habitat aslinya jenis akasia ini dapat tumbuh sampai ketinggian 15 meter.













Acacia podalyriifolia
Jenis pohon akasia yang berasal dari Australia tetapi juga telah dinaturalisasi di Malaysia, Afrika, India, dan Amerika Selatan. Kegunaannya meliputi pengelolaan lingkungan dan juga sebagai pohon hias. Acasia podalyriifolia memiliki kekerabatan dekat dengan Acacia uncifera yang juga berasal dari Australia.










Sumber : Global Biodiversity Information Facility (GBIF), Plantnet, & dari berbagai sumber