Genus Casuarina terdiri dari 6 spesies, termasuk famili Casuarinaceae, berasal dari Australia, pulau-pulau di Pasifik selatan dan Asia tenggara. Penampilan Casuarina sangat mirip dengan pinus, yaitu suatu konifera yang juga berasal dari Australia. Casuarina ditanam sebagai tanaman peneduh jalan di daerah pegunungan di Jawa barat.
Salah satu spesies anggota genus ini adalah Casuarina junghuhniana Miq yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Cemara gunung
Cemara gunung (Casuarina junghuhniana Miq) bisa mencapai tinggi 15 – 35 meter. Sekilas pohonnya mirip pinus. Tetapi keduanya berasal dari genus yang berbeda. Perbedaan utama cemara dan pinus terletak pada cara daunnya tumbuh. Pada pohon pinus, daun jarumnya berkelompok (biasanya 2, 3, atau 5) yang terikat bersama, sedangkan pada cemara, daun jarumnya tumbuh satu per satu pada cabang. Perbedaan lain termasuk tinggi pohon yang bisa mencapai 20 meter pada cemara, sementara pinus bisa tumbuh hingga 40 meter, dan tekstur kulit kayu, di mana pinus cenderung halus saat muda dan mengelupas saat tua, sedangkan cemara umumnya kasar dan berkerut saat dewasa.
Perbedaan Cemara dan Pinus
| Cemara Gunung (Cassuarina junghuhniana Miq) | Pinus (Pinus L.) | |
|---|---|---|
| Daun | Tumbuh tunggal per satu pada cabang | Tumbuh berkelompok (biasanya 2, 3, atau 5) yang terikat bersama |
| Tinggi | Umumnya lebih rendah, sekitar 5 hingga 20 meter | Bisa tumbuh jauh lebih tinggi, hingga 40 meter |
| Tekstur Kulit Kayu | Umumnya kasar, beralur, dan bersisik saat dewasa | Halus saat muda, lalu menjadi mengelupas (merah-kecoklatan) saat dewasa |
| Bentuk Pohon | Lebih rapat dan berbentuk kerucut yang lebih teratur | Bentuk kerucut yang lebih tidak beraturan |


Cemara gunung juga memiliki perbedaan dengan spesies cemara lain yang juga sering dijadikan pohon peneduh, yakni jenis cemara laut (casuarina equisetifolia). Secara fisik Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana) memiliki tajuk yang lebih sempit, cabang-cabang yang kecil dan rapi dibandingkan dengan cemara laut. Batang pohon Cemara gunung juga cenderung lurus dan tanpa simpul.
Perbedaan utama lainnya, Cemara gunung (Casurina junghuhniania Mig) dengan Cemara laut (casuarina equisetifolia) karena cemara gunung merupakan tumbuhan berumah dua (dioecy) yakni memiliki bunga jantan dan bunga betina pada pohon yang berbeda. Secara habitatnya cemara gunung (Casuaria junghuhniana Miq.) banyak terdapat di pegunungan, terutama pegunungan Jawa timur dan kerapkali membentuk hutan yang luas, sementara jenis cemara laut habitatnya banyak terdapat di pesisir pantai. Bentuk daun cemara gunung berupa Jarum dengan dudukan daun berhadapan atau berseling. Sementara Cemara laut bentuk daunya serupa lidi atau sisik yang beruas-ruas yang panjangnya 15-30 cm serta mudah gugur. Perbedaan lainnya adalah pertumbuhan cemara gunung yang relatif cepat dan memiliki kemampuannya memperbaiki kandungan nitrogen dalam tanah karena adanya simbiosis perakaran dengan mikrobia penambat N. Sementara cemara laut memiliki kelebihan kemampuannya yang dapat hidup di lingkungan pesisir dan berangin kencang.
Seperti beberapa spesies lain dari genus Casuarina, Cemara gunung adalah tumbuhan aktinorhizal yang mampu memperbaiki nitrogen atmosfer. Berbeda dengan spesies dari keluarga tanaman Fabaceae (misalnya kacang, alfalfa, Acacia ), Casuarina memiliki simbiosis dengan mikrobia dari jenis Frankia actinomycete yang membantu memperbaiki kandungan nitrogen dalam tanah.
Untuk tumbuh baik, Cemara umumnya memerlukan sinar matahari yang cukup, tanah yang subur, lembab serta berdrainase baik. Perbanyakan dilakukan umumnya lewat biji, namun kini berkembang juga dengan penggunaan stek. Biji bisa disemai tanpa perlakuan, namun harus dijaga dari gangguan semut.
Bibit dari bij i sebaiknya ditanam pada tanah ringan dengan drainase baik, tidak pada tanah liat untuk mencegah serangan hama dan penyakit.
Klasifikasi
- Kingdom: Plantae
- Subkingdom: Tracheobionta
- Superdivisi: Spermatophyta
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Magnoliopsida
- Subkelas: Hamamelidae
- Ordo: Fagales
- Famili: Casuarinaceae
- Genus: Casuarina
- Spesies: Casuarina junghuhniana Miq.
Morfologi
- Dapat tumbuh hingga 15–35 meter.
- Dedaunan terdiri dari ranting ramping, banyak bercabang hijau hingga hijau keabu-abuan 0,8–1 mm (0,032–0,039 in) diameter, bantalan skala kecil- berdaun dalam lingkaran 9–11.
- Merupakan tumbuhan berumah dua (Dioecious) dan Bunga-bunga diproduksi dalam perbungaan seperti catkin kecil.
- Buahnya adalah struktur kayu lonjong, secara dangkal menyerupai kerucut konifer yang terdiri dari banyak karpel yang masing-masing berisi satu biji dengan sayap kecil 4–5 mm (0,16–0,2 dalam) panjang.
- Memiliki tajuk yang lebih sempit, cabang-cabang yang kecil dan rapi. Ia memiliki batang lurus dan tanpa simpul.
Potensi Ekologi
- Rehabilitasi lahan kritis: Tumbuh baik di lereng berbatu, padang rumput, dan tanah alkali.
- Perbaikan tanah: Bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen (Frankia), meningkatkan kesuburan tanah.
- Konservasi air dan tanah: Akar kuat menahan erosi dan meningkatkan infiltrasi air.
- Habitat satwa: Menyediakan tempat berlindung bagi burung dan serangga.
Potensi Peneduh Jalan
Cemara gunung cocok sebagai peneduh jalan karena:
- Pertumbuhan cepat dan tajuk rimbun: Memberikan keteduhan optimal.
- Toleran terhadap kekeringan dan polusi udara: Ideal untuk jalur perkotaan dan pinggiran.
- Perakaran dalam dan kuat: Tidak merusak trotoar atau jalan.
- Estetika lanskap: Memberikan nuansa alami dan sejuk.
Potensi Karbon
Cemara gunung (Casuarina junghuhniana) termasuk famili Casuarinaceae dan memiliki potensi ekologis tinggi sebagai peneduh jalan, pelindung tanah, dan penyerap karbon. Penanaman cemara gunung di jalur jalan dapat menyerap karbon hingga ±70–90 ton/ha tergantung umur dan kerapatan tanam.
- Estimasi penyerapan karbon cemara gunung berkisar antara 70–90 ton/ha tergantung umur dan kerapatan.
- Estimasi serapan karbon per pohon (usia 10–15 tahun) bisa mencapai 30–50 kg C/pohon.
- Jika ditanam sebagai peneduh jalan dengan jarak tanam 5 meter, maka dalam 1 km jalan (sekitar 200 pohon), potensi serapan karbon bisa mencapai: 6–10 ton karbon/km jalan dalam 10–15 tahun.
Gambar



















Sumber : Plantnet, Global Biodiversity Information Facility (GBIF) & Dari berbagai sumber