Daun dewa (Gynura divaricata)

Daun Dewa (Gynura divaricata) orang China menyebutnya Samsit. Tinggi tanaman ini sekitar 30-50 cm, merupakan tumbuhan tegak, batang daun pendek lunak berbentuk segi lima, dengan penampang berbentuk lonjong dan berambut pada sisi luar. Pada umumnya ditanam di pekarangan sebagai tanaman obat. Batang muda berwarna hijau dengan alur memanjang warna tengguli, jika sudah tua bercabangnya lebih banyak.

Tanaman Daun Dewa (Gynura segetum) merupakan salah satu tanaman obat yang tentu tidak asing lagi di telinga masyarakat yang mendengarnya. Tanaman mujarab asal Myanmar dan Cina ini, umumnya dapat dijumpai di pekarangan rumah karena banyaknya khasiat yang dimilikinya sehingga sering dibudidayakan oleh masyarakat sebagai tanaman obat untuk mengatasi aneka ragam penyakit. Bagian tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat ialah daun dan umbinya.

Daun dewa tergolong sebagai tanaman terna tahunan yang tegak, dengan tinggi sekitar 50 cm. Batangnya berwarna hijau dan memiliki cabang yang bertambah banyak saat umurnya semakin tua. Sedangkan, daun tanaman ini bersifat tunggal, bertangkai dan memiliki bentuk bulat telur sampai bulat memanjang dengan ujung yang lancip dan memiliki panjang daun antara 8-20 cm serta lebar 5-10 cm. Daun dewa tumbuh lebih rimbun pada bagian bawah daripada bagian ujung batangnya. Daunnya memiliki bentuk yang unik, yaitu bergerigi di sekeliling pinggir daun.

Nama Daun  dewa sendiri sebenarnya berasal dari Sumatera. Asal-usulnya adalah wujud fisik daun tanaman ini yang memiliki tepi daun bergerigi, layaknya ornamen baju pada dewa. Di Cina daun dewa lebih dikenal dengan nama samsit atau aan qi cao.

Efek farmakologis yang dimiliki tanaman daun dewa diyakini ampuh melancarkan peredaran darah, mengatasi luka memar, peradangan dan pembengkakan yang terjadi, menghentikan pendarahan, menurunkan panas, antinyeri, menurunkan kolesterol jahat, menghilangkan kutil, mengatasi gangguan ginjal, melawan serangan bakteri dan virus, menetralkan racun dalam tubuh, bahkan tumor dan kanker bisa diatasinya.

Beberapa senyawa aktif yang diperoleh dari ekstrak daun dewa seperti flavonoid, monoterpen, dan seskuiterpen lakton, diketahui berperan penting dalam menghambat pertumbuhan dan perkembangan sel tumor/kanker dalam tubuh.

Selain sifat antitumor dan antikanker yang dimilikinya, tentu saja sifat farmakologis daun dewa lainnya juga turut bersumbangsih dalam pengobatan kanker dimana rasa nyeri dan peradangan yang terjadi akibat keberadaan tumor dan kanker dapat ditekan sehingga meringankan rasa sakit yang diderita penderita kanker.

Kandungan penting :

Sifat kimiawi dan efek farmakologis : netral, rasa khas. Anti coagulant, mencairkan bekuan darah, stimulasi sirkulasi, menghentikan pendarahan. Menghilangkan panas dan membersihkan racun. Kandungan kimia : saponin, minyak atsiri, flavonoid.

Bagian yang digunakan :

Seluruh tanaman

Khasiat :

Daun :

  • Luka terpukul
  • Melancarkan sirkulasi
  • Menghentikan pendarahan (batuk darah, muntah darah, mimisan)
  • Pembengkakan payudara
  • Infeksi kerongkongan
  • Tidak datang haid
  • Digigit binatang berbisa

Umbi :

  • Menghilangkan bekuan darah (haematom) pembengkakan,
  • Tulang patah (fraktur)
  • Pendarahan sehabis melahirkan

Cara penggunaan :

  • Luka terpukul, tidak datang haid; 15-30 gram herba direbus / ditumbuk, diambil airnya, campur dengan arak yang sudah dipanaskan, kemudian diminum.
  • Pendarahan pada wanita, pembengkakan payudara, batuk dan muntah darah; Siapkan 1 batang lengkap 15 gram direbus, lalu diminum.
  • Kejang pada anak; 1 batang ditumbuk ambil airnya, lalu diminum.
  • Luka terpukul, masuk angin ; 6-9 gram umbi segar, kemudian dipanaskan, lalu diminum.
  • Digigit ular / binatang lain ; Umbi dilumatkan kemudian ditempelkan di area yang terkena gigitan.
  • Kutil ; 5 lembar daun dewa dihaluskan, dan dilumurkan pada tempat berkutil, kemudian dibalut, dan dilepaskan keesokan harinya.

Gambar :