Bambu dapat tumbuh pada iklim kering sampai tropika basah, pada kondisi tanah subur dan kurang subur serta dari dataran rendah sampai 4000 mdpl, dan dari tempat datar sampai lereng-lereng gunung atau tebing-tebing sungai. Bambu adalah tumbuhan serbaguna, cepat tumbuh serta memiliki peranan yang penting dalam kehidupan dan budaya masyarakat (Razvi, dkk., 2011).
Bambu telah digunakan secara luas sebagai bahan bangunan di seluruh dunia. Dari bangunan tradisional untuk proyek arsitektur yang inovatif, bambu telah menunjukkan kesesuaian berdasarkan pada berat badan gabungan rendah, kekuatan tinggi, keindahan dan daya tahan . Bambu digunakan dalam hal teknis maupun non teknis.
Bagi masyarakat pedesaan, bambu memegang peranan sangat penting. Bambu dikenal memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan berupa batang yang kuat, serta kulit batang yang mudah dibentuk. Bambu banyak ditemukan di sekitar pemukiman daerah pedesaan, sehingga bambu menjadi tanaman serbaguna bagi masyarakat pedesaan.
Terintegrasinya bambu dengan hampir semua kebutuhan dan kegiatan masyarakat menjadikan bambu sebagai tanaman serba guna atau multifungsi. Melansir salah satu penelitian yang dilakukan oleh Riki Rikardo, Hadi Susilo dan Suyamto dari jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Farmasi, Universitas Mathla’ul Anwar Banten, menelaah nilai kegunaan bambu khususnya Bambu Mayan (Gigantochloa Robusta) di Kecamatan Sobang, Pandeglang Banten.
Diperoleh hasil survey mengenai nilai kegunaan Bambu Mayan (Gigantochloa Robusta Kurz.) yang dibagi kedalam 8 kategori , yaitu; teknologi tradisional, kerajinan/komersil, konstruksi ringan, konstruksi berat, makanan, adat-istiadat, konstruksi ringan, obat tradisional, dan manfaat lainnya.
Teknologi Tradisional
Bambu Mayan (Gigantochloa robusta Kurz.) dimanfaatkan sebagai teknologi tradisional, yaitu kayu bakar, arang, getek (rakit), tangga, rak piring, rajeg (pagar), sasak, cukang (jembatan), kompos, amben, plupuh, kursi, meja, pananggung (pikulan), gribig (bilik), kentongan/ tongtrong, caping (cotom), loloco, lodong, gantar (galah), sampayan, talang air, pancuran air, taplakan, penggaruk, ancak (tirai), para, pot bunga, gapura, tusuk sate, sumpit, lalangitan, cetakan gula
Kayu bakar masih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat karena mayoritas masyarakat sebagai petani. Belum banyak masyarakat menggunakan gas LPG seperti di kota besar. Arang bambu mempunyai fungsi yang sama dengan arang kayu. Nilai kalor arang bambu rata-rata 6602 kal/gr dan yang paling baik dijadikan arang adalah bambu adalah bambu ater dimana sifat arang yang dihasilkan relative sama dengan sifat arang kayu bakau.(Batubara, 2002)






Kerajinan/ Komersil
Kerajinan sangat erat dengan kreativitas masyarakat. Di masyarakat pemanfaatan bambu sebagai produk kerajinan ini meliputi produk; angklung, tusuk gigi, layangan, ceting/bakul, cepon/boboko, kalo, tolok,
pengangen, tampah, kipas, haseupan, sair/irig/ayakan.
Perajin yang akan memproduksi kerajinannya akan memilih jenis bambu yang sesuai dengan keinginan dan tujuan. Teknik pembakaran dilakukan dengan memanaskan besi atau alat yang sudah dipersiapkan ke dalam tungku pemanas lalu dibuat motif atau gambar sesuai selera pembuat. Teknik pengecatan dengan menggunakan jenis-jenis cat yang biasa dijual di toko untuk memperoleh warna tertentu biasanya kurang disukai konsumen
Konstruksi Berat
Bambu bersama bahan organik lainnya banyak digunakan pada pembangunan rumah rakyat pedesaan. Perkembangan bahan dasar dan kebutuhan perumahan rakyat yang sederhana, maka pembangunan rumah bambu sesuai untuk membantu rakyat yang berpenghasilan rendah, terutama didaerah yang mempunyai ketersediaan bambu (Batubara, 2002).
Masyarakat menggunakan bambu sebagai kerangka bangunan, saung, rumah, usuk, reng, bagang (keramba), panggung. Bambu masih banyak digunakan sebagai konstruksi dikarenakan masih banyaknya tegakkan bambu dan tahan terhadap gempa.
Sebagai bahan bangunan alternatif pengganti kayu, para pengguna pada dasarnya tentu akan
mempertimbangkan beberapa aspek penting, seperti kualitas yang meliputi kekuatan dan ketahanan
bambu sebagai bahan alternatif pengganti kayu tentunya dipilih bambu yang batangnya lurus,
berdiameter batang sedang hingga besar bulat akan digunakan sebagai pilar atau tiang rumah,
berdinding buluh tebal, dan tahan terhadap serangan hama terutama bubuk batang. Secara umum
kekuatan bambu setara baja ringan dan kepadatannya seperti serat karbon (Sakaray, dkk., 2012).
Makanan
Masyarakat mengolah rebung menjadi gado- gado, sayur santan, urab, risol, lotek, tumis. Rebung bambu biasanya banyak ditemukan pada musim penghujan. Tumbuh dengan cepat dan berusia kurang dari 30 hari. Karena setelah berumur lebih dari 30 hari bambu akan mengeras dan beralih manfaat.
Dibidang makanan dan sayuran, kelezatan rebung bambu sudah diketahui oleh masyarakat sejak lama. Masyarakat pedesaan menyenangi rebung bambu karena rasanya enak, tidak terlalu pahit ataupun tidak terlalu keras dan juga rebungnya besar. Melalui teknik sederhana yaitu dengan mengupas, mengiris, merebus dan kemudian mencucinya rebung sudah siap dipasarkan atau dikonsumsi. Bambu dapat dimanfaatkan sebagai sayuran dalan dalam bentuk rebung. Jenis –jenis tertentu rebungnya dapat dimakan karena kadar HCN kecil atau sama sekali tidak ada, rasanya memenuhi selera, lunak dan warnanya menarik.
Kandungan gizinya cukup memadai sebagai sumber mineral dan vitamin (Batubara, 2002). Dayak Kahayan memanfaatkan rebung untuk makanan yaitu dengan cara ditumis (Munziri dan Mukarlina, 2013
Adat-istiadat (Ritual)
Masyarakat didaerah penelitian yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani juga mengenal berbagai upacara dalam pertanian salah satunya sedekah bumi. Upacara ini ditujukan kepada makhluk-makhluk halus dengan maksud agar mereka tidak marah sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Selain itu juga merupakan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Upacara seperti itu dapat terjadi diberbagai jenis lapangan pekerjaan termasuk pertanian. Selain sedekah bumi acara adat yang
menggunakan bambu seperti tiang janur, kurung, dedes (keranda), tangtang angin, dan palang kuburan.


Konstruksi Ringan
Konstruksi ringan dimanfaatkan masyarakat sebagai atap, kandang, serekep (kurungan ayam),
sangkar ayam, sangkar burung. Pemanfaatan konstruksi ringan masih dilakukan secara tradisional
dan memanfaatkan bahan yang ada dilingkungan sekitar.
Pembuatan kandang ayam atau kambing menggunakan bambu dalam bentuk utuh dan ada pula yang dibelah. Bambu yang digunakan dalam bentuk utuh biasanya dibuat untuk dinding kandang (Munziri dan Mukarlina, 2013).
Obat Tradisional
Masyarakat di daerah penelitian masih banyak menggunakan bahan alami sebagai obat alternatif salah satunya bambu. Bambu digunakan sebagai obat batuk, turun panas, sesak napas dan penetral racun.
Caranya ujung batang bambu dipotong, tetesan air yang keluar dari bekas potongan itu ditampung pada ruas bambu semalaman. Cairan hasil penampungan tersebut (tuak) diminumkan pada penderita sakit.
Daun bambu digunakan sebagai anthhelmintic. Tabashir (mama bambu) merupakan stimulan penurun panas, antispasmodic, dan afrodisiak (Kumar, dkk., 2010) Penggunaan obat tradisional ini juga banyak digunakan masyarakat Baduy sebagai obat batuk (Iskandar dan Budiawati, 2005). Di Bengkulu Selatan bambu mayan (Gigantochloa robusta Kurz) digunakan sebagai obat diare (Supriati, 2013). Bambu digunakan sebagai obat karena mengandung asetilkolin dan flavonoid yang digunakan sebagai antioksidan (Dharmananda, 2004)
Manfaat Lainnya
Berbagai keperluan lain yang membutuhkan bambu sebagai bahan baku adalah golodog, lanjaran
atau ajir, peletokan, enggrang, ayunan, koci, dan alas pindang.
Glossarium alat2 dari Bambu :
- Bakul/ceting : Wadah nasi
- Caping (cotom) : Topi petani
- Cepon/boboko : Anyaman bambu yang menyerupai ceting/bakul tapi tidak memiliki bagian kaki
- Enggrang : Permainan tradisional dari bambu
- Golodog : Tempat menyimpan ember, bak
- Gribig (bilik) : Anyaman dari bilah bambu (untuk dinding)
- Kentongan/ tongtrong : Alat komunikasi yang dibuat dari bambu atau kayu yang bagian sisi tengahnya diberi lubang
- Kalo : Alat untuk menyimpan bumbu dapur yang menyerupai tampah namun berukuran lebih kecil
- Koci : Penganan kecil yang dibuat dari tepung beras dengan isi gula atau kelapa dibagian dalamnya
- Loloco : Alat untuk menumbuk dan menghaluskan benda, biasanya digunakan oleh nenek-nenek yang suka nginang
- Lodong : Tabung bambu besar
- Lanjaran atau ajir : Alat berupa bambu dan sebagainya untuk menopang dan tempat menjalarkan tanaman menjalar
- Para : Tempat untuk menaruh alat rumah tangga yang biasanya teretak di dapur
- Pecel : Makanan tradisional sejenis gado-gado
- Peletokan : Permainan tradisional yang dibuat dari ranting bambu dengan sebuah pendulum
- Pengangen : Alat untuk mendinginkan nasi bersama dengan kipas, berbentuk menyerupai tampah
- Penggaruk : Alat untuk membolak-balikan jemuran padi
- Plupuh/ Palupuh : Belahan bambu yang digunakan sebagai alas rumah pengganti papan
- Sampayan : Alat untuk menjemur pakaian
- Sasak : Anyaman (bilah bambu) kasar untuk pagar, dinding, dan lain sebagainya
- Saung : Tempat berteduh atau rumah kecil di daerah persawahaan atau huma :
- Tang-tang angin : Anyaman bambu yang dibuat ebagai tolak bala
- Taplakan : Alat untuk memberi garis ketika menanam padi
- Tolok : Alat yang dibuat dari anyaman bambu dan biasanya digunakan untuk wadah ketika mencari ikan
Sumber :