Orok-orok hutan (Flemingia congesta)

Orok orok hutan ( Flemingia congesta) merupakan tanaman semak. Orok orok hutan mempunyai nama lokal ; Apa-apa (Jawa), hahapaan (Sunda), pok- pokan (Madura). Daerah penyebaran orok-orok hutan (Flemingia congesta) yaitu disekitar Asia Tenggara dengan daerah yang beriklim tropis salah satunya Indonesia. orok-orok hutan menghendaki tumbuh dengan ketinggian kurang dari 200 m dpl. Tanaman ini tumbuh baik di daerah dengan curah hujan 1100-2800 mm per tahun, toleran terhadap genangan dan tanah miskin unsur hara, dan banyak dijumpai di saluran air, hutan tropis basah, dan padang rumput yang dipenuhi alang-alang.

Orok-orok hutan (Flemingia congesta) merupakan tanaman habitat semak, menahun dengan tinggi 0,5-2 m. memiliki batang tegak, bulat, dan permukaan coklat kasar. Daun majemuk berbilang 3 dan tersebar. Helai daun berbentuk lonjong dengan ujung dan pangkal runcing. Tepi daun rata dengan panjang 10-18 cm dan lebar 5-7 cm. tangkai daun pendek dengan pertulangan menyirip dan permukaan berbulu hijau. Bunga majemuk terletak di ketiak daun dengan bentuk malai dan panjangnya 10-15 cm. Kelopak bunga panjangnya 1 cm, memiliki benang sari pendek dan putih, kemudian putiknya satu dan panjangnya ± 2 mm. mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang 5-11 mm putih. Buah berbentuk polong lonjong dengan panjang 3-13 mm dan lebar 6 mm, ketika masih muda hijau setelah tua coklat. Biji bulat, kecil, dan hitam. Akar tunggang dan putih kecoklatan.

Flemingia macrophylla ditanam sebagai tanaman pagar dan sebagai pakan ternak dan pupuk hijau. Pohon ini juga ditanam di tempat-tempat landai untuk mencegah erosi. Di Malaysia, Indonesia, Sri Lanka, Afrika Barat, dan Madagaskar tanaman ini ditanam sebagai tanaman penutup tanah dan pohon pelindung di perkebunan-perkebunan cokelat, kopi, pisang, dan karet. Dekomposisi tanaman orok-orok hutan relative lebih lambat sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan mulsa. Pemberian pupuk hijau berupa pangkasan orok-orok hutan mampu memberikan kontribusi sebesar 30,81 kg N, 3,96 kg P, dan 31,26 kg K. (Purwanto, 2007).

Di Arab, tumbuhan ini merupakan salah satu sumber penghasil warna pencelup untuk sutra. Penanaman kombinasi rumput gajah, rumput vetiver, pohon sengon, dan Kkara benguk dapat mengendalikan stabilitas lahan bekas letusan gunung berapi di Gunung Merapi (Jawa Tengah).

Salah satu tanaman endemik Kalimantan Tengah ini secara turun-temurun digunakan oleh masyarakat dayak untuk pengobatan organ reproduksi wanita, perawatan kulit, dan baru-baru ini digunakan sebagai penyembuhan obat kanker. Masyarakat suku dayak mengidentifikasi tanaman hahapaan dengan hal yang berbau mistis sehingga identik sebagai tanaman mistik. Namun, berdasarkan hasil laboratorium kimia organik bahan alam dari kelompok riset bahan alam FST Unair yang di Ketuai oleh prof Tjitjik Srie Tjahjandarie, menyatakan bahwa kandungan dalam tanaman ini memiliki kemampuan dalam menyembuhkan kanker. Bahkan salah satu jenis Hahapaan, yaitu Flemingia macrophylla terbukti mengandung senyawa yang aktif sebagai anti kanker payudara.

Kandungan penting :

Daun, buah dan akar Flemingia congesta mengandung saponin dan polifenol, di samping itu akar dan daunnya juga mengandung flavonoida.

Khasiat dan Cara penggunaan :

    • Akar orok-orok hutan (Flemingia congesta ) berkhasiat sebagai obat bengkak pada leher dan juga untuk obat bisul. Untuk obat bengkak leher dipakai kurang lebih 25 gram akar orok-orok hutan (Flemingia congesta )
    • yang masih segar, dicuci dan ditumbuk halus, ditempelkan pada bagian yang bengkak lalu dibalut dengan kain yang bersih.
    • Tumbuk akar sampai halus, tapalkan pada bagian yang luka atau bisul

Gambar :

Sumber : Kitab Tanaman Obat Nusantara